Dokter Berharap Pernyataan WHO soal Jam Kerja Bisa Diterapkan dalam Regulasi

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Selasa 18 Mei 2021 06:08 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 17 612 2411232 dokter-berharap-pernyataan-who-soal-jam-kerja-bisa-diterapkan-dalam-regulasi-eH8LeK2pLR.jpg Kelelahan akibat jam kerja panjang (Foto: Thrive global)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah merilis pernyataan bahwa jam kerja yang panjang memicu risiko kematian yang lebih tinggi akibat stroke dan penyakit jantung iskemik.

Dalam pertanyaan tersebut sebanyak 745.000 kematian yang disebabkan stroke dan penyakit jantung iskemik terjadi pada 2016 akibat jam kerja yang panjang.

 kelelahan akibat jam kerja panjang

Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Muhamad Fajri Adda’i mengatakan, pengetahuan mengenai pernyataan WHO tersebut harus bisa diterapkan dan tidak hanya sebatas paper saja. Sebab, paper ini kan akan bermanfaat jika diterapkan dalam satu regulasi.

“Ini tidak akan bermanfaat jika hanya sebatas ilmiah saja tanpa aplikasi. Yang ketiga, ada negara-negara maju yang sudah lebih dahulu mengaplikasikan ini. Salah satunya adalah Swedia. Beberapa tahun lalu bahkan Swedia memotong hari dan jam kerja, jadi lima hari kerja dan seharinya hanya enam jam kerja saja,” terang dr. Fajri belum lama ini.

Tak hanya Swedia, di negara Skandinavia terutama negara yang level kebahagiaannya lebih tinggi, office hour memang lebih pendek. Sebab mereka memiliki prinsip ketika office hour itu lebih pendek, orang akan lebih fokus di dunia kerja ketika mereka memiliki waktu yang cukup atau lebih yang mengurus kehidupan pribadinya di saat mereka bekerja.

“Enam jam misalnya, itu akan betul-betul fokus karena mereka memiliki waktu yang lain untuk mengerjakan hal di luar pekerjaannya untuk mengurus urusan pribadi dan lain-lain. Jadi kita mengapresiasi publikasi ini dan kita mengendorse upaya ini agar diaplikasikan ke kehidupan nyata kita,” tuntasnya.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini