Psikolog: Jangan Gampang Ngecap si Kecil Anak Nakal!

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 20 Mei 2021 11:33 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 20 612 2412779 psikolog-jangan-gampang-ngecap-si-kecil-anak-nakal-IfXrxnv37x.jpg Jangan mudah menyebut anak nakal (Foto: Firstcry parenting)

Banyak orangtua yang masih mudah sekali memberikan sebutan untuk anaknya, misalnya saja anak nakal. Salah satu indikatornya adalah si anak tak mau diam, sering membantah, atau sulit sekali mematuhi aturan yang ada di rumah.

Tapi, tahukah Anda kalau memberikan cap seperti 'anak nakal' kepada si kecil itu malah akan memberi dampak buruk ke kepribadian si anak?

 Anak

Diterangkan Psikolog Anak Karina Istifarisny, gampang memberikan cap 'anak nakal' itu memiliki efek pada si kecil. Hal ini bahkan kerap tidak disadari oleh sebagian orangtua.

"Pada anak kecil, sebutan negatif seperti 'anak nakal' itu akan menjadi bagian dari penilaian diri mereka. Anak-anak itu belum bisa melakukan yang namanya penilaian diri, beda dengan orang dewasa, sehingga kata-kata yang mereka terima dari orang dewasa akan langsung menjadi bagian dari dirinya," papar Karina pada MNC Portal Indonesia, Kamis (20/5/2021).

Misalnya saja saat orangtua mengatakan anaknya cantik atau ganteng, kata Karina, secara tidak langsung si anak akan percaya bahwa mereka memang cantik atau ganteng.

"Demikian pula sebaliknya, orang dewasa yang melontarkan kata-kata negatif, ya, si anak akan percaya dia adalah anak yang disebutkan orang dewasa itu," tambahnya.

Hal ini akan semakin terbentuk pada karakter si anak ketika kata-kata itu sering dilontarkan. "Semakin diulang, semakin si kecil akan terus ingat," singkat Karina.

Karena itu, Karina menyarankan pada semua orangtua untuk jangan mudah memberi cap negatif ke anak. Memang terkadang tak terhindarkan kalimat-kalimat itu, terlebih orangtua sudah capek memberi tahu si anak, tapi tidak ada respons perbaikan alias si anak enggak ngerti-ngertu juga.

"Daripada ngasih cap negatif, lebih baik para orangtua gunakan kalimat positif. Misalnya nih, dibanding ngomong 'Bandel banget sih! Rapihin enggak mainannya!' lebih baik kalimatnya diganti menjadi, 'Anak kesayangan mama atau papa, rapihin mainannya, ya. Anak pintar. Kan lebih enak dilihat kalau rapi. Yuk, yuk kita rapihin sama-sama, mama atau papa bantu, ya," saran Karina.

Dengan mengutarakan kalimat positif, menurut Karina, itu akan membuat mood si anak jadi jauh lebih baik untuk mengikuti permintaan orangtuanya. Meskipun, tak bisa dipungkiri bahwa yang namanya anak-anak, kalau diperintah tak selalu berhasil.

"Sebagai orangtua, Anda harus kreatif menemukan cara-cara yang menarik agar si kecil kooperatif," tambah Karina.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini