Kekurangan Vitamin D Bisa Memperburuk Penyakit Autoimun

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Sabtu 22 Mei 2021 19:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 22 481 2414036 kekurangan-vitamin-d-bisa-memperburuk-penyakit-autoimun-ogrPSybffl.jpg Ilustrasi (Foto : Timesofindia)

Kekurangan vitamin D secara luas dianggap sebagai penyebab penyakit autoimun. Namun, berdasarkan tinjauan Autoimmunity Reviews terdapat korelasi antara vitamin D dengan penyakit autoimun yang terjadi.

Penelitian tersebut menyatakan bahwa vitamin D memiliki potensi memperburuk penyakit autoimun. Berdasarkan penelitian yang ditulis oleh tim peneliti di Yayasan Penelitian Autoimunitas yang berbasis di California, ahli biologi molekuler mengetahui satu hal yang menarik.

Mereka mengetahui bahwa bentuk vitamin D berasal dari makanan dan suplemen, 25-hidroksivitamin D (25- D) lebih mirip sekosteroid daripada vitamin. Layaknya obat kortikosteroid, vitamin D dapat memberikan bantuan jangka pendek dengan menurunkan peradangan.

Namun, tetap dapat memperburuk gejala penyakit dalam jangka panjang. Penjelasan itu didasarkan pada penelitian molekuler yang menunjukkan bahwa 25-D lebih menonaktifkan daripada mengaktifkan reseptor vitamin D atau VDR.

vitamin D

Sebagaimana dilansir Eurekalert, Sabtu (22/5/2021), penyakit autoimun dulu dikaitkan dengan metabolisme kalsium, VDR. Sekarang diketahui bahwa vitamin D mentranskripsikan setidaknya 913 gen dan sebagian besar mengontrol respons imun bawaan.

Respon tersebut mengekspresikan sebagian besar peptida antimikroba tubuh. Ini adalah antimikroba alami yang menargetkan bakteri. Profesor Trevor Marshall dari Murdoch University, Australia Barat, berpendapat bahwa tindakan 25-D harus dipertimbangkan dalam kaitannya dengan penelitian terbaru tentang Microbiome Manusia.

Baca Juga : 4 Gaya Seksi DJ Joana Bikin Mata Pria Susah Kedip

Penelitian semacam itu menunjukkan bahwa bakteri jauh lebih menyebar daripada yang diperkirakan sebelumnya. Sebanyak 90% sel dalam tubuh diperkirakan meningkatkan kemungkinan bahwa penyakit autoimun disebabkan oleh patogen persisten.

Marshall dan tim menjelaskan bahwa dengan menonaktifkan VDR, selanjutnya respons imun, 25-D menurunkan peradangan yang disebabkan oleh banyak bakteri ini. Tetapi memungkinkan mereka menyebar lebih mudah dalam jangka panjang.

Mereka menguraikan bagaimana kerusakan jangka panjang yang disebabkan oleh kadar 25-D yang tinggi diakibatkan karena bakteri yang terlibat dalam penyakit autoimun tumbuh sangat lambat.

Misalnya, insiden yang lebih tinggi pada lesi otak, alergi, dan atopi sebagai respons terhadap suplementasi vitamin Selain itu, kadar 25-D yang rendah sering ditemukan pada pasien dengan penyakit autoimun. Intinya defisiensi sekosteroid dapat berkontribusi pada proses penyakit autoimun.

Marshall dan tim menjelaskan bahwa kadar 25-D yang rendah ini adalah hasil, dan bukanlah penyebab, dari proses penyakit. Penelitian Marshall menunjukkan bahwa pada penyakit autoimun, kadar 25-D diatur secara alami sebagai respons terhadap disregulasi VDR oleh patogen kronis.

Dalam keadaan seperti itu, suplementasi dengan ekstra vitamin D tidak hanya kontraproduktif tetapi juga berbahaya, karena memperlambat kemampuan sistem kekebalan untuk menangani bakteri tersebut.

Tim tersebut menunjukkan pentingnya memeriksa model alternatif metabolisme vitamin D.

"Vitamin D saat ini direkomendasikan pada dosis yang belum pernah terjadi sebelumnya,” tutur Amy Proal yang merupakan salah satu penulis penelitian.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini