Pangeran Harry Ungkap Rahasia Meghan Markle Tak Jadi Bunuh Diri

Pradita Ananda, Jurnalis · Senin 24 Mei 2021 17:10 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 24 612 2414790 pangeran-harry-ungkap-rahasia-meghan-markle-tak-jadi-bunuh-diri-RTRp9D5JPy.jpg Pangeran Harry (Foto: Pagesix)

Saat diwawancara Oprah Winfrey beberapa bulan lalu, Duchess of Sussex, Meghan Markle mengungkapkan banyak hal mengagetkan yang selama ini tak diketahui publik. Salah satunya Meghan pernah terbesit di pikirannya ingin bunuh diri.

Perihal pikiran untuk bunuh diri oleh Meghan rupanya dingkapkan oleh suaminya sendiri, Duke of Sussex Pangeran Harry, yang akhirnya buka suara.

Meghan Markle 

Dalam tayangan series dokumenter Pangeran Harry tentang kesehatan mental, The Me You Can't See, yang tayang perdana pada Jumat 21 Mei kemarin, Harry mengungkapkan secara gamblang alasan kenapa Meghan akhirnya sadar dan tak jadi melakukan tindakan bunuh diri.

Harry menjelaskan, alasan Meghan bisa tersadar ialah karena dirinya dan tak mau sejarah tragis di hidup sang suami terulang lagi. Harry pernah kehilangan ibunya Putri Diana dengan sangat tragis.

“Hal yang menghentikan Meghan kala itu adalah, dia berpikir tidak adil bagi saya, setelah semua yang terjadi pada ibu saya jika saya dalam posisi kembali kehilangan istri dengan dengan bayi di dalam dirinya, anak kami,” ujar Pangeran Harry, dikutip Page Six, Senin (24/5/2021).

Adik kandung Pangeran William tersebut menambahkan, ia sengaja tidak memberitahukan pihak keluarga kerajaan tentang kondisi Meghan yang sampai di titik merasa ingin bunuh diri karena dirinya merasa malu sebab situasinya telah berkembang jadi semakin buruk. Harry juga menyebutkan, bahwa pihak keluarga kerajaan kemungkinan tidak akan bisa membantu.

Akhirnya situasi ini, disebutkan Harry sebagai salah satu faktor terbesar dirinya dan Meghan memutuskan untuk meninggalkan keluarga kerajaan di Inggris dan memilih bermukim sementara di Kanada dan akhirnya sekarang bermukim di California, Los Angeles

“Itulah salah satu alasan terbesar untuk pergi, merasa terjebak dan merasa dikendalikan lewar ketakutan, baik oleh media maupun oleh sistem itu sendiri, yang mana tidak pernah mendorong pembicaraan tentang trauma semacam ini, " pungkas Harry.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini