Share

Ternyata Label Kalori dalam Makanan Kemasan Tak Akurat hingga 20%

Antara, Jurnalis · Kamis 27 Mei 2021 15:39 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 27 612 2416242 ternyata-label-kalori-dalam-makanan-kemasan-tak-akurat-hingga-20-oBXVKo6TSz.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

SETIAP makanan kemasan olahan biasanya memiliki label nutrisi dalam packingnya. Dari label nutrisi tersebut, orang bisa mengetahui seberapa besar jumlah protein, karbohidrat hingga kalori yang dikandung dalam sebuah makanan kemasan.

Tapi, apakah label nutrisi yang ada di sebuah produk makanan akurat? Dalam sebuah penelitian, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengungkapkan kalori di kemasan makanan atau minuman tidak akurat hingga 20 persen.

Sebagai contoh, jika satu porsi Greek yogurt yang diberi label mengandung 100 kalori sebenarnya bisa memiliki 80-120 kalori. Kalori memang bukan satu-satunya faktor dalam penurunan berat badan, tetapi secara umum diterima sebagai zat yang dipertimbangkan untuk menurunkan berat badan.

Konsepnya dari diet adalah membuat tubuh Anda defisit kalori, artinya Anda membakar lebih banyak energi daripada yang Anda konsumsi dalam bentuk makanan.

Penelitian sebelumnya menemukan, makanan kemasan cenderung memiliki rata-rata sekitar 8 persen lebih banyak kalori daripada yang tercantum pada label. Misalnya, makanan berlabel 250 kalori sebenarnya bisa memiliki 270 kalori.

Makanan Kemasan

Makanan ringan umum, termasuk kerupuk, keripik, dan kue camilan juga cenderung memiliki kalori lebih banyak daripada yang diiklankan, yakni sekitar 4 persen lebih banyak dari yang diberi label, menurut sebuah penelitian tahun 2013 seperti dikutip dari Insider, Rabu.

Walau label kalori di kemasan makanan atau minuman tak bisa dipercaya begitu saja, mempertimbangkan asupan kalori tetap bermanfaat untuk Anda.

Selain itu, lebih sadar dari mana asal kalori juga dapat membantu Anda mengubah perilaku yang tidak membantu tujuan Anda, seperti mengurangi makanan yang mungkin menyebabkan Anda makan berlebihan.

Para ahli mengatakan, salah satu prinsip populer dalam nutrisi adalah aturan 80/20, yang mensyaratkan makan sehat sekitar 80 persen dari waktu dan memungkinkan fleksibilitas 20 persen dalam diet Anda sehingga Anda tidak menjadi stres atau merasa dibatasi.

Di sisi lain, label yang tidak akurat bisa jadi 20 persen lebih banyak atau 20 persen lebih sedikit dari kalori sebenarnya dalam makanan.

Menurut peneliti ilmu olahraga, Greg Nuckols, dalam konteks diet Anda secara keseluruhan, kadang-kadang 20 kalori di luar label adalah sebagian kecil dari total asupan energi Anda. Apabila Anda masih khawatir salah menghitung kalori Anda, salah satu strateginya adalah menghindari makanan berlabel sama sekali.

Banyak makanan kemasan yang diproses secara ultra, artinya makanan tersebut mengandung lemak tambahan, gula, garam, dan pengawet. Ada banyak bukti makanan olahan buruk bagi kesehatan kita, yang menyebabkan peningkatan risiko penyakit kronis.

Makanan olahan bahkan menyebabkan Anda makan lebih banyak daripada yang seharusnya, hingga 500 kalori ekstra sehari, menurut beberapa penelitian.

Sebaliknya, makan lebih banyak makanan utuh seperti hasil bumi, kacang-kacangan, daging tanpa lemak, telur, biji-bijian, dapat meningkatkan berat badan yang sehat dan menurunkan risiko penyakit.

Meskipun makanan ini terkadang masih diberi label, tetapi lebih sedikit bahan juga berarti berkurangnya ketidakpastian tentang apa yang Anda masukkan ke dalam mulut.

Ahli diet merekomendasikan Anda menyediakan buah dan sayuran segar sekitar setengah dari piring Anda. Kedua makanan ini mengandung vitamin, mineral, dan serat, yang semuanya penting untuk kesehatan secara keseluruhan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini