Klarifikasi Menkes Soal DKI Jakarta Dapat Nilai E Penanganan Covid-19

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 28 Mei 2021 14:45 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 28 481 2416765 klarifikasi-menkes-soal-dki-jakarta-dapat-nilai-e-penanganan-covid-19-Pky5o5oTj6.jpg Menkes Budi Gunadi (Foto : Dok.Setpress)

Menteri Kesehatan - Menkes Budi Gunadi Sadikin memberikan klarifikasi soal pemberian nilai E untuk DKI Jakarta dari Kementerian Kesehatan atas penanganan pandemi Covid-19.

"Data-data dan angka (yang muncul di publik) adalah indikator risiko berdasarkan pedoman Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang terbaru yang digunakan sebagai data internal di Kementerian Kesehatan," terang Menkes Budi dalam keterangan pers virtualnya, Jumat (28/5/2021).

Menkes Budi

(Foto: Dok.Setpress)

Data tersebut, sambung Menkes Budi, untuk melihat lonjakan kasus sesudah libur Lebaran kemarin. "Terus terang, kami baru mendiskusikan angka-angka atau pedoman umum ini sekitar 4 minggu yang lalu. Kami tengah mempelajari bagaimana penerapannya, apakah cocok atau tidak dan kami sedang melakukan simulasi di beberapa daerah, provinsi, kabupaten, atau kota," tambahnya.

"Indikator risiko ini, saya tegaskan sekali lagi, bukan merupakan penilaian kinerja dari daerah, provinsi, atau daerah. Ini merupakan indikator risiko yang digunakan Kemenkes secara internal untuk melihat laju penularan pandemi dan bagaimana kami merespons dan melihat kesiapan respons masing-masing daerah, baik itu provinsi, kabupaten atau kota sehingga kami bisa melihat intervensi atau bantuan apa yang sedang kami lakukan," terangnya.

Baca Juga : Suplai Vaksin Covid-19 Terbatas, Menkes Budi: Lansia Jadi Prioritas!

Lebih lanjut, Kemenkes sendiri saat ini tengah mempelajari apakah ada faktor-faktor lain yang perlu dilihat berdasar pengalaman sebelumnya untuk bisa memperbaiki respons atau intervensi, kebijakan, atau program untuk mengatasi pandemi.

Selama pandemi berlangsung satu tahun lebih, Kemenkes melihat bahwa tidak ada negara di dunia bahkan WHO yang menemukan resep yang komprehensif dalam upaya mengatasi pandemi. Artinya, semua negara masih terus melakukan modifikasi dari kebijakan yang sudah dibuat untuk mencari mana yang pas untuk mengatasi pandemi.

"Ada kebijakan yang awalnya baik, tapi 6 bulan kemudian karena terjadi mutasi virus, kami harus mengubah kebijakan tersebut. Itu sebabnya, kebijakan atau indikator mempersiapkan penanganan pandemi berubah-ubah," tambahnya.

Indonesia sendiri sudah banyak melakukan hal positif dalam penganan Covid-19. Tapi, tak bisa dipungkiri masih banyak pekerjaan yang bisa diperbaiki supaya hasil yang didapat lebih baik.

"Masih banyak sekali hal-hal yang kita bisa tiru dari negara lain, kita bisa juga tiru dari daerah yang implementasinya baik. Tapi, yang saya lihat, secara umum, di seluruh dunia adalah kerja sama antara semua pihak. Kalau kerja sama ini dirajut dengan baik, maka penanganan pandemi bisa lebih baik diatasi," tambah Menkes Budi.

Sebelumnya, Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia Dante Saksono memberikan pemaparan kualitas pengendalian pandemi Covid-19 di seluruh provinsi. Dalam pemaparannya itu, DKI mendapat nilai terendah dari 34 provinsi yang ada.

"Berdasarkan rekomendasi yang kami buat matriks tadi, ada beberapa daerah yang masuk kategori D dan ada yang masuk kategori E seperti Jakarta. Tetapi ada juga yang masih di C, artinya bed occupation ratio dan pengendalian provinsinya masih baik," kata Dante dalam rapat dengan pendapat (RDP) bersama DPR RI disiarkan di akun YouTube DPR RI, Kamis (27/5/2021).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini