Berkesempatan Divaksin, Dokter Reisa: Jangan Tunda Apalagi Ragu!

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Sabtu 29 Mei 2021 17:46 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 29 481 2417242 berkesempatan-divaksin-dokter-reisa-jangan-tunda-apalagi-ragu-fRwjjAgzgQ.jpg Vaksin Covid-19 (Foto: Reuters)

Program vaksinasi jadi salah satu upaya pemerintah mengentaskan pandemi Covid-19 yang sudah menyiksa banyak bidang kehidupan selama lebih dari setahun. Di sisi lain, masyarakat pun diminta terus patuh menjalankan protokol kesehatan.

Seperti yang diterangkan Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 Dokter Reisa Broto Asmoro, protokol kesehatan (Prokes) adalah elemen yang sangat penting selama masih ada pandemi Covid-19.

 Dokter Reisa

"Jadi, meski vaksinasi sudah berjalan, prokes tetap harus disiplin dilakukan," katanya pada Dialog Produktif bertema 'Protokol Jalan, Ekonomi Aman' yang diselenggarakan KPCPEN dan disiarkan di FMB9ID_IKP, Jumat (28/5/2021).

Dokter Reisa pun tak menampik bahwa banyak masyarakat yang mulai jenuh dengan terus menerus mendisiplinkan diri menjalankan prokes. Namun, untuk bisa terbiasa dengan hal baru memang butuh proses. "Memang harus terus menerus diingatkan," singkatnya.

Selain soal prokes, Dokter Reisa pun menyinggung soal vaksinasi yang cakupannya masih belum banyak di seluruh Indonesia. Dia mengimbau agar masyarakat memanfaatkan fasilitas vaksinasi yang disediakan negara secara cuma-cuma.

"Kalau masyarakat sudah berkesempatan untuk divaksin, manfaatkanlah vaksin tersebut, jangan ditunda apalagi ragu karena berita yang belum pasti kebenarannya," sarannya.

Vaksinasi merupakan upaya kita bersama dalam menciptakan herd immunity atau kekebalan kelompok. Kalau sudah tercipta, maka pandemi Covid-19 pun akan segera berakhir. "Tapi ingat, prokesnya tetap harus dijalankan dengan disiplin selagi pandemi masih ada meski Anda sudah divaksin," tambah dr Reisa.

Dari kacamata ekonomi kesehatan, vaksinasi adalah metode pencegahan yang efisien. Diterangkan Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Prof. Hasbullah Thabrany, dengan adanya vaksinasi ini bisa menurunkan pembiayaan yang besar jika seseorang terinfeksi Covid-19 dan mesti dirawat di rumah sakit.

"Sebagai ilustrasi, katakanlah biaya vaksinasi Covid-19 seharga Rp900 ribu, maka kita bisa mencegah diri dari penularan penyakit. Dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan apabila terkena Covid-19 yang rata-rata perawatannya memerlukan 9-10 hari, biaya vaksinasi lebih efisien. Apabila kita bekerja sehari mampu menghasilkan Rp500 ribu maka kita bisa kehilangan potensi penghasilan Rp5 juta akibat dirawat akibat Covid-19," terang Prof Hasbullah.

Prof. Hasbullah juga menjelaskan akibat Covid-19, anggaran belanja negara defisit hingga lebih dari Rp1.000 triliun.

"Karena Covid-19 yang tidak teratasi membuat perekonomian tidak bergerak, sehingga kita semua sebenarnya adalah korban Covid-19. Pemerintah sadar betul apabila masyarakat tidak dipulihkan kesehatannya, serta perilaku masyarakat tidak didisiplinkan, ekonomi menjadi sulit bergerak. Pemerintah pun berinvestasi dengan vaksinasi dan melalui 3T," ujarnya

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini