Terdampak Pandemi Covid-19, Stok Darah untuk Pasien Thalasemia Makin Berkurang

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 31 Mei 2021 17:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 31 481 2418054 terdampak-pandemi-covid-19-stok-darah-untuk-pasien-thalasemia-makin-berkurang-AnmWXuhbNO.jpg Ilustrasi (Foto : Timesofindia)

Pandemi Covid-19 benar-benar memberi dampak nyata pada kehidupan manusia. Bukan hanya soal lahirnya kebiasaan baru 5M, tetapi juga memberi dampak buruk bagi keberlangsungan hidup pasien Thalasemia.

Ya, pasokan darah yang biasanya tercukupi, ternyata berkurang akibat pandemi Covid-19. Ini amat sangat dirasakan bagi pasien Thalasemia di seluruh Indonesia.

"Akibat pandemi, banyak orang ragu atau takut ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya untuk mendonorkan darahnya. Karena kondisi tersebut, stok darah di rumah sakit pun berkurang padahal darah sangat penting bagi pasien Thalasemia," papar Ketua Perhimpunan Orangtua Penyandang Thalassemia Indonesia (POPTI Pusat) dan Yayasan Thalassemia Indonesia (YTI), Ruswandi, dalam webinar kesehatan, Senin (31/5/2021).

Menurut Dokter Spesialis Anak RSCM dr Tenu Tjitra Sari, SpA(K), pasien Thalasemia mayor membutuhkan tranfusi darah rutin seumur hidupnya. "Biasanya transfusi darah dilakukan setiap empat minggu sekali," terangnya dalam laman resmi Kementerian Kesehatan, Sehat Negeriku.

Donor Darah

Nah, dengan stok darah yang tidak begitu banyak jumlahnya, berbeda sebelum pandemi, kekhawatiran pasien Thalasemia tidak memiliki donor darah menjadi nyata. Hal ini yang menjadi perhatian Ruswandi dan berharap sekali masyarakat bergeliat kembali untuk mendonorkan darahnya.

"Setetes darah kalian akan sangat bermakna bagi pasien Thalasemia. Untuk itu, kami selaku yayasan mengimbau masyarakat agar tetap mendonorkan darahnya karena akan sangat berarti bagi pasien Thalasemia," tambahnya.

Baca Juga : Benarkah Pasien Thalasemia Dilarang Makan Daging Sapi?

Masalah darah untuk transfusi pasien Thalasemia ternyata bukan hanya pada stoknya yang berkurang akibat pandemi Covid-19. Diterangkan Dokter Konsultan Hematologi Onkologi Anak dr Bambang Sudarmanto, Sp.A(K), MARS, ada beberapa masalah lain yang masih dihadapi, salah satunya belum semua rumah sakit menyediakan layanan skrining NAT pada darah pendonor.

"Skrining NAT ini diperlukan supaya darah yang dihasilkan bisa terbebas dari HIV, Hepatitis B, atau Hepatitis C dan faktanya belum semua tersedia di Indonesia," katanya.

Selain itu, belum semua Bank Darah rumah sakit atau Palang Merah Indonesia (PMI), kata dr Bambang, menyediakan PRC leukodeplated. "Kemudian, belum semua rumah sakit menggunakan Bed Site Filter dalam memberikan tranfuse darah," tambah dr Bambang.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini