Di Tengah Covid-19, Ini 5 Alasan Kekebalan Kelompok Mungkin Tak Bisa Terjadi

Pradita Ananda, Jurnalis · Senin 31 Mei 2021 18:14 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 31 481 2418115 di-tengah-covid-19-ini-5-alasan-kekebalan-kelompok-mungkin-tak-bisa-terjadi-0flDOIkpu6.jpg Pandemi Covid-19 (Foto: Pixabay)

Seiring dengan tingkat vaksinasi Covid-19 di lingkup global yang semakin naik setiap harinya. Wajar jika masyarakat mulai bertanya-tanya, kira-kira berapa lama lagi pandemi ini bisa segera berakhir.

Namun sayangnya, dari kacamata medis tampaknya berakhirnya pandemi Covid-19 dengan salah satunya tercapainya kekebalan immunity ( kekebalan kelompok) disebut sebagai hal yang tidak mungkin terjadi.

Well, kira-kira apa saja alasannya? Mewarta Nature, Senin (31/5/2021) berikut ulasan singkat lima alasan kenapa kekebalan kelompok disebut kemungkinan jadi hal yang tidak mungkin bisa terjadi.

Vaksin Covid-19

1. Kemampuan vaksin yang masih belum jelas

Kemampuan yang dimaksud ialah terkait masih belum jelasnya kemampuan vaksin untuk mencegah penularan. Contohnya, vaksin Covid-19 dari Moderna dan Pfizer – BioNTech yang disebutkan sangat efektif mencegah penyakit simptomatik. Tapi masih belum jelas apakah vaksin tersebut bisa melindungi orang dari infeksi atau dari penyebaran virus (transmisi) ke orang lain. Inilah yang disebut jadi masalah terkait herd immunity.

Dikatakan Shweta Bansal, ahli biologi matematika di Universitas Georgetown di Washington DC, kekebalan kelompok hanya relevan jika dunia global punya vaksin Covid-19 yang terbukti penghambat penularan.

Jika tidak, maka satu-satunya cara untuk mendapatkan kekebalan kelompok pada populasi masyarakat adalah dengan memberikan vaksin kepada semua orang.

 

2. Vaksinasi tak merata

Vaksinasi dengan kecepatan dan distribusi yang merata, jadi salah satu faktor penting tercapainya kekebalan masyarakat. Pada kenyataannya program vaksinasi yang merata, tidak mungkin dicapai dalam skala global. Ada variasi yang sangat besar dalam efisiensi peluncuran vaksin antar negara.

Contohnya, negara maju yang memiliki stok vaksin Covid-19 sendiri seperti Amerika Serikat saja, akses untuk mendapatkannya vaksinnya saja tidak merata. Beberapa negara bagian, seperti Georgia dan Utah, telah memvaksinasi penuh kurang dari 10 persen populasi mereka, sedangkan Alaska dan New Mexico telah memvaksinasi penuh lebih dari 16 persen.

Di sebagian besar negara, contohnya Indonesia, distribusi vaksin dikelompokkan berdasarkan usia dengan prioritas diberikan kepada orang tua, yang memiliki risiko kematian tertinggi. Sementara kelompok usia lainnya yang jauh lebih muda, misalnya anak-anak untuk pemberian vaksin pun masih tengah ditinjau.

Jika tidak memungkinkan untuk memvaksinasi anak-anak, maka idealnya harus lebih banyak orang dewasa yang perlu divaksinasi untuk mencapai herd immunity. Jika sebagian besar orang di bawah 18 tahun tidak menerima vaksin, maka 100 persen orang yang berusia di atas 18 tahun harus divaksinasi agar bisa mencapai 76 persen kekebalan dalam populasi.

3. Virus varian baru

Tantangan selanjutnya ialah hadirnya virus SARS-CoV-2 varian baru yang diketahui lebih menular daripada varian virus original sebelumnya dan juga lebih resisten terhadap vaksin. Sara Del Valle, epidemiolog di Alamos National Laboratory menyebutkan dunia saat ini tengah berpacu, berlomba-lomba dengan varian virus yang baru.

Semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk menghentikan penularan virus, semakin banyak pula waktu untuk varian ini muncul dan menyebar. Memvaksinasi masyarakat dengan cepat dan menyeluruh bisa jadi salah satu cara mencegah varian baru semakin berkembang, tapi faktanya memang vaksinasi yang bergulir saat ini masih tak merata.

4. Kekebalan sementara

Kekebalan yang ada kemungkinan tidak bertahan untuk selamanya. Saat ini, yang juga jadi pertanyaan besar adalah seberapa lama kekebalan yang tercipta dari orang-orang yang sudah divaksin bisa bertahan. Saat ini kondisi yang ada adalah, masih kurangnya data pasti soal menurunnya kekebaln.

Selain pentingnya untuk memahami berapa lama kekebalan berbasis vaksin bisa bertahan. Penting juga untuk diketahui, apakah suntikan booster sebagai penguat memang diperlukan rutin dari waktu ke waktu.

5. Vaksin kemungkinan mengubah perilaku manusia

Pasca-vaksinasi, semakin banyak orang yang sudah divaksin maka akan meningkat pula interaksi sesama manusia dan inilah yang akan mengubah peta kekebalan kelompok. Contohnya, sebelum mendapat vaksin Anda bertemu paling banyak hanya satu orang, dan sekarang dengan sudah divaksin Anda mau dan merasa bisa bertemu dengan sepuluh orang.

Faktor non-farmasi dinilai akan terus memainkan peran penting dalam menekan kasus infeksi. Mencapai kekebalan kelompok di masyarakat, intinya adalah memutus jalur penularan, membatasi kontak sosial dan melanjutkan kebiasaan protokol kesehatan seperti menggunakan masker disebutkan bisa berkontribusi untuk mengurangi penyebaran varian baru saat vaksin diluncurkan.

Stefan Flasche, epidemiolog vaksin di London School of Hygiene & Tropical Medicine, mengemukakan bahwa mencapai herd immunity tidak bisa hanya mengandalkan vaksin.

 “Mencapai kekebalan kelompok lewat vaksin saja akan menjadi hal agak tidak mungkin. Saatnya untuk lebih realistis. Vaksin ini memang perkembangan yang benar-benar menakjubkan, tetapi tidak mungkin dapat sepenuhnya menghentikan penyebaran virus, jadi kita perlu memikirkan cara bagaimana kita bisa hidup dengan virus,” kata Stefan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini