Yuk Deteksi Dini Lansia Renta dengan RAPUH

Antara, Jurnalis · Senin 31 Mei 2021 16:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 31 612 2418003 yuk-deteksi-dini-lansia-renta-dengan-rapuh-2eC8pcdHJc.jpg Ilustrasi. (Foto: Freepik)

MEMANG tidak semua lansia membutuhkan perhatian khusus. Tapi, sebuah studi yang dipublikasikan pada 2021 menemukan, sebanyak 1 dari 5 lansia mengalami kerentaan atau 18,17 persen dan 66,20 persen masuk kategori pra-renta.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan geriatri di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, Lazuardhi Dwipa, mengatakan, kerentaan membuat lansia tak bisa mandiri dan tergantung pada orang lain. Kondisi ini juga meningkatkan kerentanan mereka terhadap suatu penyakit dan berujung menyebabkan kualitas hidup buruk.

Lantas, bagaimana cara mendeteksi dini lansia yang mengalami kerentaan?

Salah satunya bisa memanfaatkan kuesioner RAPUH, yang merupakan akronim dari: Resistensi, Aktivitas, Penyakit, Usaha berjalan dan Hilangnya berat badan. Berilah skor 1 pada masing-masing akronim untuk jawaban “ya”.

R atau resistensi yakni kelemahan otot yang ditandai mengalami kesulitan naik 10 anak tangga. Dia harus istirahat atau dibantu.

A yakni aktivitas yang diukur dari mudah lelah sepanjang waktu. Orang renta atau rapuh cenderung depresi. Beri skor 1 apabila lansia memiliki ciri ini.

P atau penyakit menahun banyak atau lebih dari lima seperti hipertensi, diabetes, paru kronik, gagal jantung, asma, nyeri sendi.

U atau usaha berjalan, ditandai performa fisik menurun. Jalan 100-200 meter tidak kuat, harus dibantu tongkat dan alat lainnya.

H atau hilangnya berat badan lebih dari 5 persen dibandingkan setahun lalu akibat malnutrisi bukan semisal program penurunan berat badan.

"Seorang lansia dikatakan renta bila minimal ada 3 atau lebih dari RAPUH ini," katanya.

Selain kerentaan, sarkopenia juga menjadi masalah bagi lansia yang menyebabkannya tidak bisa mandiri dan menua dengan tidak sehat. Sarkopenia merupakan kondisi hilangnya massa otot dan fungsinya akibat proses menua.

Pemeriksaan untuk mendeteksi sarkopenia bisa dilakukan di rumah sakit, meliputi uji genggam tangan, pengukuran massa otot dan tes performa fisik.

Kerentaan dan sarkopenia tak boleh dibiarkan karena bila penyandangnya jatuh, apalagi ditambah ostreporosis, maka bisa mengarah pada patah panggul. Akibatnya, dia bisa mengalami imobilitasi atau hanya bisa terbaring dan berisiko terkena infeksi serta kecacatan menetap.

“Jadi kalau dimaklumi, tidak dideteksi awal dan diobati, akhirnya seperti ini. Padahal, sarkopenia dan kerentaan bisa dicegah dan diobati,” kata Lazuardhi.

Menurutnya, di era pandemi saat ini, kondisi renta juga bisa membuat lansia berisiko terkena Covid-19 dan menghalangi mereka mendapatkan vaksin, walaupun menjadi prioritas untuk divaksin.

Lazuardhi mengatakan, seorang lansia yang renta harus menunda divaksin, sembari memperbaiki kondisinya sehingga performa fisik, kemudian resistensi dan status gizinya membaik.

Tatalaksana yang bisa mereka jalani dibantu tenaga kesehatan antara lain pemberian gizi yang baik, kemudian olahraga untuk penguatan otot, stamina, kelenturan dan pencegahan jatuh, lalu pemberian vitamin D sesuai kebutuhan tubuh, mengelola penyakit menahunnya dan menghindari efek buruk banyaknya obat atau poli farmasi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini