Fadli Zon Positif Covid-19, Titer Antibodi Tinggi Jamin Seseorang Kebal Corona?

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Selasa 01 Juni 2021 11:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 01 481 2418380 fadli-zon-positif-covid-19-titer-antibodi-tinggi-jamin-seseorang-kebal-corona-PQhh52p67T.jpg Fadli Zon (Foto: Instagram/@fadlizon)

Politisi Partai Gerindra, Fadli Zon belum lama ini mengumumkan bahwa dirinya telah terinfeksi Covid-19. Kabar tersebut ia sampaikan lewat unggahan akun media sosial Twitter @fadlizon pada Minggu 30 Mei 2021, malam. Dalam unggahan tersebut ia mengaku terpapar Covid-19 meski sudah divaksin sebanyak dua kali.

Pada unggahan tersebut Fadli Zon pun mengimbau pada seluruh masyarakat agar selalu berhati-hati dan tetap waspada terhadap paparan Covid-19 yang mengintai di mana saja meski sudah divaksin dua kali.

Fadli Zon

“Di hari-hari menjelang 50 tahun, akhirnya saya terpapar Covid-19, Maret lalu sudah dua kali vaksin dan tes titer antibodi 250 (cukup baik). Covid-19 ini nyata ada. Alhamdulillah baik-baik saja. Mari waspada jaga kesehatan, jaga jarak, jaga imunitas tubuh. Mohon doanya,” tulis unggahan Fadli Zon.

Pada pernyataannya, Fadli Zon sempat menyebut bahwa titer antibodi yang dimilikinya sebesar 250 yang dinyatakan cukup baik. Lantas apakah semakin tinggi titer antibody, maka akan semakin baik?

Baca Juga : Sudah 2 Kali Divaksin, Fadli Zon Positif Covid-19: Mari Waspada Jaga Kesehatan

Influencer Kesehatan sekaligus Dokter Relawan Covid-19, dr. Muhamad Fajri Adda’i mengatakan bahwa belum ada konsensus atau kesepakatan di mana pun terkait kadar titer antibodi yang baik pasca disuntik vaksin Covid-19. Selain itu kadar yang tinggi sebetulnya belum tentu menjadi gold standar untuk menentukan bahwa antibodi dapat menetralisir Covid-19.

“Walaupun kadarnya tinggi secara kuantitatif, tapi secara kualitatif dia belum tentu bisa menetralkan (Covid-19). Itulah mengapa dibutuhkan pemeriksaan lanjutan yaitu uji netralisasi antibodi. Jadi antibodi yang ada ini bisa menetralkan virus tersebut, inilah yang disebut uji netralisasi,” terang dr. Fajri saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Senin 31 Mei 2021.

Oleh sebab itu, dr. Fajri mengatakan mengapa pemeriksaan kuantitatif tidak dianjurkan untuk masyarakat umum kecuali level penelitian dan terstandarisasi. Sebab harus ada standarisasi yang bisa menjadi dasar acuan untuk membuat suatu kesimpulan.

“Jadi harus ada standarisasi. Ini kan 250 kita gak tau pemeriksaannya dimana? Bagaimana metodenya? Dan lain-lain, dan diperiksa berapa hari pasca disuntik vaksin. Itulah sebabnya mengapa Kementerian Kesehatan (Kemenkes) belum menganjurkan pengecekan antibodi pasca disuntik vaksin, karena belum ada konsensus berapa skor yang baik dan yang buruk mengenai kasus ini,” tuntasnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini