Thalasemia Belum Ada Obatnya, Kenali Gejala dan Cara Deteksi Dini

Helmi Ade Saputra, Jurnalis · Rabu 02 Juni 2021 00:41 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 01 481 2418463 thalasemia-belum-ada-obatnya-kenali-gejala-dan-cara-deteksi-dini-FkZB1ksd7l.jpg Ilustrasi. (Foto: Everydayhealth)

PENYAKIT thalasemia belum ada obatnya. Karenanya, Anda harus bisa mencegah agar tak menambah jumlah penderita.

Thalasemia merupakan penyakit genetik yang diturunkan dr orangtua ke anak. Di Indonesia, berdasarkan data Kementerian Kesehatan, penderitanya hampir 11 ribu.

Diungkapkan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kemenkes RI dr Cut Putri Arianie, MH.Kes, pembawa sifat thalasemia di Indonesia sangat banyak. Angkanya terus meningkat dan menimbulkan dampak psikologis yang cukup berat.

"Orangtua yang mempunyai anak-anak istimewa ini harus transfusi darah sepanjang hidup," paparnya saat Webinar Hari Thalasemia Sedunia 2021 Kalbe Farma, baru-baru ini.

Baca Juga: Antibodi Tinggi Tak Jamin Terlindungi dari Covid-19, Ini Penjelasannya

darah

Sebagai langkah pencegahan, menurut dr Cut, Kemenkes mengedukasi ke sekira 11 ribu penderita atau pembawa sifat. Mereka dianjurkan agar tidak menikah dengan sesama penderita thalasemia.

"Selain itu, pencegahan untuk keluarga denhan penderita thalasemia itu harus memeriksakan diri," imbuh dia.

"Jika pasangan pengantin ketahuan menjadi pembawa sifat itu ya memiliki anak dengan adopsi agar tak melajirkan anak thalasemia," ucapnya.

Konsultan Hematologi-Onkologi Anak Dr. dr. Sri Mulatsih, Sp.A(K), MPH memaparkan, penyebab thalasemia ini adalah kelainan darah merah, kulitasnya tidak baik, salah satu protein yg produksi darah merah itu kurang, sehingga rusak, sumsum tlg bekerja dengan keras dan pasirn membutuhkan transfusi.

"Penyakit ini diturunkan oleh orangtua baik bapak atau ibu. Tapi orang tidak tahu beda thalasemia dan leukemia," ungkapnya.

Gejalanya, kata dr Mulat, thalasemia sedang atau berat itu beda. Penyintas thalasemia ringan, menurut dr Mulat, umumnya tak bergejala.

"Kalau yang berat itu pucat, memang anaknya putih seperti anemia, tapi anemia kurang darah dan thalasemia itu beda," terangnya.

Pengobatan yang diberikan penyintas thalasemia ini belum ada. Namun pengobatan atau terapi harus di rumah sakit dengan tenaga medis yang kompeten. 
Jalan untuk penyintas thalasemia agar bertahan hidup adalah transfusi darah rutin. Supaya darah mengalir ke seluruh tubuh, tumbuh kembang baik, serta memperbaiki organ-organ tubuh. 
"Pemberian kelasi besi berikutnya, penyandang thalasemia berat ini berisiko kelebihan besi dan akhirnya meracuni tubuh dan melekat di sluruh organ. 
dr Mulat berujar, saat ini kelasi besi bisa diminum. Kalau dulu disuntik, jadi berat untuk pasien yang bisa jenuh. 
Ya, dua terapi ini sangat dibutuhkan penderita thalasemia. Di samping deteksi dini atau mencegah. 
"Kalau ada ya dijaga dan rutin berobat, yang belum ya dicegah agar tidak thalasemia," tutupnya.

Pengobatan yang diberikan penyintas thalasemia ini belum ada. Namun pengobatan atau terapi harus di rumah sakit dengan tenaga medis yang kompeten. 


Jalan untuk penyintas thalasemia agar bertahan hidup adalah transfusi darah rutin. Supaya darah mengalir ke seluruh tubuh, tumbuh kembang baik, serta memperbaiki organ-organ tubuh. 


"Pemberian kelasi besi berikutnya, penyandang thalasemia berat ini berisiko kelebihan besi dan akhirnya meracuni tubuh dan melekat di sluruh organ. 


dr Mulat berujar, saat ini kelasi besi bisa diminum. Kalau dulu disuntik, jadi berat untuk pasien yang bisa jenuh. 


Ya, dua terapi ini sangat dibutuhkan penderita thalasemia. Di samping deteksi dini atau mencegah. 
"Kalau ada ya dijaga dan rutin berobat, yang belum ya dicegah agar tidak thalasemia," tutupnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini