China Laporkan Kasus Infeksi Flu Burung H10N3 Pertama di Tengah Pandemi

Pradita Ananda, Jurnalis · Rabu 02 Juni 2021 12:59 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 02 481 2418854 china-laporkan-kasus-infeksi-flu-burung-h10n3-pertama-di-tengah-pandemi-ycpIUr75v7.jpg Flu burung (Foto: Yahoo news India)

Pandemi Covid-19 belum juga usai. Namun serangan virus baru lain yang bisa mengancam kesehatan umat manusia sudah berdatangan.

Mengutip CBS News, Rabu (2/6/2021) China pada Selasa 1 Juni kemarin diketahui baru saja melaporkan kasus infeksi virus flu burung H10N3 pertama pada manusia. Namun China menyebutkan, resiko virus ini bisa menyebar luas di antara sesama manusia adalah rendah.

 flu burung

Kasus pertama infeksi virus flu burung H10N3 pada manusia yang dilaporkan oleh China tersebut, dialami oleh seorang pria berusia 41 tahun yang dilarikan ke rumah sakit di Zhenjiang dengan gejala berupa demam pada 28 April lalu. Dari keterangan National Health Commission (NHC) China, disebutkan sang pria satu bulan kemudian didiagnosis dengan infeksi virus flu burung H10N3.

NHC menyebutkan, virus ini punya resiko rendah untuk menyebar ke sesama manusia.

“Resiko penyebaran skala besar sangat rendah. Pria itu dalam kondisi stabil dan kontak dekatnya tidak melaporkan adanya kelainan yang dialami,” bunyi keterangan NHC.

Tapi sayangnya, hingga saat ini tak ada informasi tentang bagaimana pria tersebut bisa sampai tertular penyakit tersebut. H10N3 sendiri disebutkan sebagai patogen rendah, cenderung menyebabkan kematian atau penyakit parah pada hewan burung.

Diketahui lebih lanjut, di China sendiri ada beberapa jenis flu burung telah ditemukan di antara hewan di China. Meskipun wabah massal pada manusia jarang terjadi, epidemi flu burung terakhir terjadi pada manusia di China diketahui muncul pada akhir 2016 sampai 2017, yakni dengan virus H7N9. Merujuk pada data Food and Agriculture Organization United Nation, virus H7N9 kala itu telah menginfeksi sebanyak 1.668 orang sejak 2013.

Sementara itu, merespon adanya wabah flu burung baru-baru ini di Afrika dan Eurasia, kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China pekan lalu dilaporkan telah mendesak pengawasan yang lebih ketat di peternakan unggas, pasar, dan burung liar di China.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini