Pakai Sinovac atau Bukan, Indonesia Butuh 70% Orang Divaksin

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Rabu 02 Juni 2021 18:31 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 02 612 2419073 pakai-sinovac-atau-bukan-indonesia-butuh-70-orang-divaksin-cqoG0PzjiO.jpg Ilustrasi Vaksin Covid-19. (Foto: Freepik)

ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) akhirnya menyetujui vaksin Covid-19 buatan Sinovac Biotech dalam penggunaan darurat di seluruh dunia. Kabar baik ini membuka jalan bagi vaksin buatan China itu untuk digunakan semakin luas di berbagai negara.

Selain itu, tidak ada batasan usia atas karena data menyebutkan vaksin ini memiliki efek perlindungan pada orang tua. Tim penasihat teknis WHO mengambil keputusan setelah meninjau data klinis terbaru mengenai keamanan dan kemanjuran vaksin Sinovac serta praktik manufaktur perusahaan.

Memang, vaksin Sinovac nilai efikasinya masih terlalu kecil. Alhasil belum lama ini China selaku negara asal vaksin Sinovac berencana untuk melakukan suntikan dosis ketiga. Namun apakah vaksinasi berkali-kali aman dilakukan?

Menjawab hal tersebut Influencer Kesehatan sekaligus Dokter Relawan Covid-19, dr. Muhamad Fajri Adda’i menjelaskan bahwa data masih dibutuhkan untuk menjawab hal tersebut. Sebab saat ini terdapat penelitian terkait hal tersebut yang harus dikaji kembali.

"Ini butuh data, sebab ada penelitian yang mengatakan survivor yang sembuh dari Covid-19 ditanya telah disuntik berapa kali. Ternyata disuntikan sekali sama dua kali, kadar antibodi dan sel kekebalan tidak jauh beda," kata dr. Fajri, saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Rabu (2/6/2021).

"Justru efek sampingnya lebih banyak jika disuntikan dua kali. Contohnya pada survivor,” tambah dia.

Dokter Fajri menyebut bahwa publikasi terbaru dari Nature, telah membandingkan kadar antibodi yang dihasilkan dari beberapa vaksin. Dari hasil penelitian tersebut Sinovac memang dinyatakan sebagai vaksin dengan efikasi yang paling rendah dibandingkan dengan Moderna, Pfizer, AstraZeneca.

Lebih mengejutkannya lagi, kadar antibodi yang dihasilkan vaksin Sinovac justru lebih rendah daripada orang-orang yang sudah sembuh dari Covid-19 (Penyintas Covid-19).

“Tapi apapun itu, kita tidak punya data butuh berapa kali booster. Kalau memang butuh dibooster, berapa lama butuhnya? Jedanya? Tidak ada yang tahu. Jadi masih membutuhkan banyak pembuktian,” tambah dr. Fajri.

Terlepas dari itu, dr. Fajri mengatakan bahwa hal yang terpenting saat ini adalah cakupan vaksinasi. Menurutnya pemerintah harus melihat negara-negara yang berhasil dalam hal vaksinasi, tapi ada pula negara yang salah seperti India dan Cile, sebab euforia vaksinnya terlalu tinggi.

“Jadi kita butuh 70 persen populasi yang divaksin. Itu membutuhkan proses. Itulah sebabnya mengapa protokol 3M masih sangat dibutuhkan agar kekebalan kelompok terbentuk yang kita tidak tahu kapan bisa terjadi,” tuntasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini