Pandemi Covid-19 Sebabkan Perdagangan Anak Meningkat di India

Pradita Ananda, Jurnalis · Kamis 03 Juni 2021 19:24 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 03 612 2419732 pandemi-covid-19-sebabkan-perdagangan-anak-meningkat-di-india-7P3PHZx0jn.jpg Ilustrasi (Foto : Shutterstock)

PANDEMI Covid-19 bisa dikatakan begitu menghantam keras India. Bukan hanya dari segi krisis kesehatan sebagai dampak hantaman gelombang kedua pandemi Covid-19, tapi juga isu sosial seperti perdagangan anak.

Dilaporkan NBC News, Kamis (3/6/2021) di tengah pandemi Covid-19 yang mematikan, India di saat yang sama juga tengah menghadapi peningkatan perdagangan anak. Meski, permasalahan tentang perdagangan anak-anak ini sudah ada jauh sebelum pandemi Covid ada, namun karena situasi pandemi saat ini lah isu human trafficking atau perdagangan manusia tepatnya pada anak-anak jadi salah satu isu besar yang diwaspadai.

Perdagangan Anak

Dari keterangan pemerintah India, tercatat per 1 April 2021 diketahui sudah ada sebanyak 577 orang anak di seluruh penjuru India yang menjadi yatim piatu sebagai akibat hantaman second wave pandemi Covid-19 di India. Alhasil, menjadikan adopsi ilegal meningkat sampai akhirnya menjadi perhatian dunia.

Fenomena adopsi anak ilegal di India ini merebak lewat linimas sosial media, iklan-iklan menyerukan adopsi anak laki-laki dan perempuan yang dibanderol dengan harga berbeda. Sumber dari Delhi Commission For Protection of Child Rights, per Mei 2021 untuk anak laki-laki biayanya sebesar USD10.977 atau sekira Rp156,8juta dan USD6.861 atau kurang lebih Rp98 juta untuk anak perempuan.

Baca Juga : Akibat Covid-19, Banyak Anak-anak Menjadi Yatim Piatu

Perwakilan dari UNICEF, DR Yasmin Ali Haque, menyebutkan meski sejauh ini belum ada cukupnya data tapi publik sesungguhnya bisa melihat adopsi anak-anak illegal di India marak muncul di linimasa sosial media, membuat para anak yatim piatu ini rentan menjadi korban perdagangan manusia sekaligus kekerasan.

Selain karena faktor meningkatnya anak-anak India yang menjadi yatim piatu. Disebutkan juga ada beberap faktor pemicu lainnya, mulai dari karena akibat lockdown sehingga para orang tua menyuruh anak-anak mereka untuk pergi bekerja ke luar rumah dengan anggapan jika anak-anak yang melakukannya maka akan jadi lebih mudah. Situasi ini yang pada akhirnya, menguntungkan bagi pelaku perdagangan manusia.

Ditambah lagi dengan kondisi tutupnya sekolah-sekolah selama sudah satu tahun lebih, yang mengakibatkan kini India dihadapi masalah tingkat pernikahan anak yang lebih tinggi daripada sebelumnya.

Sebagai solusi atas polemik ini, dikatakan Anuragh Kundu dari Delhi Commission For Protection of Child Rights, program pendampingan finansial dari pemerintah harus bisa terlaksana dengan baik dan benar, manfaatnya harus bisa dirasakan oleh para keluarga yang menjadi target sasaran yang tepat. Sehingga bisa mempersulit terjadinya perdagangan anak.

Terakhir, harus adanya kunjungan rutin ke rumah-rumah dengan tujuan untuk mengecek langsung keadaan mental, kesehatan emosi, finansial, pendidikan dan kesejahteraan kesehatan terutama anak-anak di keluarga tersebut.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini