Sempat Dialami Aprilia Manganang, Kenali Tanda-Tanda Hipospadia pada Bayi Laki-Laki

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Jum'at 04 Juni 2021 15:31 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 04 481 2420168 sempat-dialami-aprilia-manganang-kenali-tanda-tanda-hipospadia-pada-bayi-laki-laki-hswFyfBq38.jpg Ilustrasi (Foto : Timesofindia)

KELAINAN genital hipospadia bisa terjadi pada siapa saja. Kelainan genital ini sempat menjadi perbincangan karena atlet Aprilia Manganang yang kini telah mengumumkan diri sebagai pria. 

Untuk melakukan tindakan pencegahan, orangtua diimbau untuk segera melakukan deteksi dini dan mencari penanganan medis yang tepat untuk mengatasi masalah ini. Sebagaimana diketahui, hipospadia merupakan kelainan bawaan lahir pada genitalia laki-laki yang ditandai dengan letak lubang saluran kemih yang tidak terletak pada ujung penis akan tetapi terletak pada bagian bawah batang penis.

Meski demikian, para orangtua diimbau untuk tidak khawatir sebab dengan penanganan yang tepat, penyakit ini dapat disembuhkan. Selain itu, penanganan medis yang segera dan tepat akan membantu agar anak dengan kasus ini memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

Bayi

Dokter Spesialis Urologi, dr. Arry Rodjani, Sp.U (K) menjelaskan bahwa hipospadia bisa dikenali dengan ciri kulit kulup yang tidak terbentuk sempurna akan tampak berkumpul dibagian atas penis sedangkan bagian bawahnya tidak tertutup (seperti hoodie) dan penis akan tampak bengkok saat ereksi.

“Hipospadia merupakan kasus kelainan genital yang sering ditemukan. Hipospadia tidak menimbulkan rasa sakit namun menyebabkan gangguan saat berkemih. Kelainan ini dapat menimbulkan dampak jangka panjang yaitu gangguan pada fungsi reproduksi, infertilitas, dan psikologi jika tidak diterapi dengan benar,” terang dr. Arry, dalam virtual media briefing ‘Hipospadia dan kelainan genitalia lainnya pada anak dapat disembuhkan’, Jumat (4/6/2021).

Baca Juga : Fakta-Fakta Hipospadia, Kelainan Langka yang Dialami Aprilia Manganang

Lebih lanjut, angka kejadian hipospadia berkisar 1 dari 200-300 kelahiran bayi laki-laki. Namun pada akhir-akhir ini diprediksi angka kejadian lebih kerap terjadi. Kondisi ini diduga karena faktor polusi udara, dan penggunaan insektisida pada bahan-bahan makanan, penggunaan kosmetik saat kehamilan dan zat-zat lain yang dapat mengganggu sistem endokrin saat kehamilan.

“Bayi dengan berat badan lahir rendah memiliki risiko lebih tinggi terkena hipospadia. Gradasi hipospadia pada umumnya berdasarkan lokasi anatomis dari ujung lubang saluran kemih. Secara sederhana dapat dibagi ringan, sedang dan berat. Meskipun demikian lokasi anatomi dari ujung lubang saluran kemih mungkin tidak selalu cukup untuk menjelaskan tingkat keparahan dan sifat komplek dari penyakit ini,” lanjutnya.

Dokter Arry mengatakan untuk menentukan seorang anak mengalami hipospadia tidaklah sederhana. Diperlukan beberapa hal yang harus dipertimbangkan, diantaranya adalah: panjang penis, ukuran, bentuk, kualitas lempeng saluran kemih dan derajat kelengkungan penis. Diagnostik penderita Hipospadia dapat dengan mudah ditegakkan.

“Namun demikian, Hipospadia berat dengan testis yang tidak teraba baik satu sisi maupun keduanya, atau dengan kelamin ambigu, membutuhkan pemeriksaan genetik dan endokrin segera setelah lahir untuk menyingkirkan Disorder Sexual Development (DSD),” lanjutnya.

Ia melanjutkan bahwa indikasi operasi rekonstruksi pada penderita hipospadia bertujuan untuk fungsional dan kosmetik. Fungsional, artinya diharapkan penis lurus saat ereksi dan lubang saluran kemih dibuatkan sampai mendekati ujung penis sehingga pasien bisa berkemih dengan aliran urin yang lurus ke depan saat posisi berdiri.

“Sedangkan tujuan kosmetik adalah penampilan penis seperti penis yang sudah disunat. Penting disadari oleh orang tua untuk tidak mengkhitan anak dengan Hipospadia karena kulit kulup yang ada akan digunakan untuk jaringan pembuatan saluran kemih,” tuntasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini