Share

Peneliti Temukan Efek Kafein bagi Otak, Positif atau Negatif?

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Okezone · Jum'at 04 Juni 2021 21:34 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 04 612 2420387 peneliti-temukan-efek-kafein-bagi-otak-positif-atau-negatif-65j71jxnXx.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

KAFEIN yang terkandung dalam kopi, cola, dan minuman berenergi memang akan memberikan tenaga tambahan bagi tubuh. Tapi di sisi lain, akan memberikan efek samping pada otak kita.

Sebagaimana diketahui, kafein adalah zat psikoaktif yang paling banyak dikonsumsi masyarakat dunia. Kafein membantu sebagian besar masyarakat untuk tetap terjaga. Tapi efek tersebut kadang bisa mengganggu waktu tidur jika dikonsumsi pada malam hari.

Efek kurang tidur inilah yang dapat memengaruhi materi abu-abu pada otak. Satu tim peneliti yang dipimpin oleh dr. Carolin Reichert dan Profesor Christian Cajochen dari Universitas Basel dan UPK (Rumah Sakit Jiwa Universitas Basel) menyelidiki fenomena ini dalam penelitian.

Sebagaimana dilansir Scitechdaily, Jumat (4/6/2021), hasil dari penelitian tersebut menyatakan bahwa kafein yang dikonsumsi sebagai bagian dari penelitian tidak mengakibatkan kurang tidur. Namun, para peneliti mengamati perubahan materi abu-abu, seperti yang mereka laporkan dalam jurnal Cerebral Cortex.

Kopi

Materi abu-abu tersebut mengacu pada bagian sistem saraf pusat yang terdiri dari badan sel sel saraf, sedangkan materi putih terdiri dari jalur saraf, perpanjangan panjang sel saraf. Sebanyak 20 orang muda sehat, yang semuanya secara teratur minum kopi setiap hari, mengambil bagian dalam penelitian ini.

Mereka diberi tablet untuk dua periode 10 hari, dan diminta untuk tidak mengonsumsi kafein lain selama waktu tersebut. Selama satu periode penelitian, mereka menerima tablet dengan kafein, tapi di sisi lain, mereka menggunakan tablet tanpa bahan aktif (plasebo).

Pada akhir setiap periode 10 hari, para peneliti memeriksa volume materi abu-abu subjek melalui pemindaian otak. Mereka menyelidiki kualitas tidur peserta di laboratorium dengan merekam aktivitas listrik otak (EEG).

Perbandingan data mengungkapkan bahwa kedalaman tidur peserta sama, terlepas apakah mereka telah mengonsumsi kafein atau kapsul plasebo. Tetapi mereka melihat perbedaan yang signifikan dalam materi abu-abu, tergantung pada subjek yang telah menerima kafein atau plasebo.

Setelah 10 hari menggunakan plasebo. Peserta yang pantang mengonsumsi kafein menunjukkan volume materi abu-abu yang lebih besar ketimbang periode waktu yang sama dengan kapsul kafein.

Perbedaan sangat mencolok terlihat pada lobus temporal medial kanan, termasuk hippocampus, wilayah otak yang penting untuk konsolidasi memori.

“Hasil yang kami peroleh, tidak selalu berarti bahwa konsumsi kafein memiliki dampak negatif pada otak. Tetapi konsumsi kafein setiap hari jelas mempengaruhi perangkat keras kognitif kita, yang dengan sendirinya harus memunculkan penelitian lebih lanjut,” tegas Reichert.

Dia menambahkan bahwa di masa lalu, efek kesehatan dari kafein telah diselidiki terutama pada pasien. Namun, ada juga kebutuhan untuk penelitian pada subyek yang sehat. Meskipun kafein tampaknya mengurangi volume materi abu-abu, setelah 10 hari berhenti minum kopi, kafein telah beregenerasi secara signifikan pada subjek uji.

"Perubahan morfologi otak tampaknya bersifat sementara, tetapi perbandingan sistematis antara peminum kopi dan mereka yang biasanya mengonsumsi sedikit atau tanpa kafein sejauh ini masih kurang," tuntas Reichert.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini