Sinopharm dan Sinovac Diakui WHO, China Perluas Pengembang Vaksin Covid-19

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Sabtu 05 Juni 2021 19:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 05 481 2420660 sinopharm-dan-sinovac-diakui-who-china-perluas-pengembang-vaksin-covid-19-ErCu9nYS8W.jpg Ilustrasi vaksin covid-19. (Foto: Freepik)

Pada Mei 2020, Presiden China Xi Jinping berjanji bahwa vaksin covid-19 akan menjadi barang publik global selama masa pandemi. Mereka telah mengembangkan vaksin berdasarkan empat platform teknologi, termasuk virus tradisional yang tidak aktif dan teknologi mRNA baru.

China juga telah meningkatkan kapasitas produksinya untuk memasok 1,4 miliar penduduk dan dunia. Sinopharm yang merupakan perusahaan milik pemerintah dapat memproduksi hingga 5 miliar dosis vaksin per tahun.

Baca juga: Daftar Vaksin yang Sudah Dapat Izin Penggunaan Darurat WHO, Ada Sinovac 

Tetapi vaksin China yang disetujui oleh WHO tidak sesuai dengan efikasi vaksin mRNA yang lebih dari 90 persen dan digunakan secara luas di AS dan Eropa. Anak perusahaan Sinopharm di Beijing hanya memiliki vaksin dengan 79 persen efikasi dalam melawan penyakit simtomatik, sementara Sinovac 51 persen efektif, menurut WHO.

Vaksin Sinopharm. (Foto: Reuters)

Mayor Jenderal Chen yang memimpin tim di Akademi Ilmu Kedokteran Militer ikut mengembangkan vaksin dengan perusahaan CanSino Biologics yang berbasis di Tianjin. Vaksin satu dosis tersebut adalah yang pertama diproduksi oleh tim dan disetujui untuk penggunaan umum pada Februari 2021.

Baca juga: Pakai Sinovac atau Bukan, Indonesia Butuh 70% Orang Divaksin 

CanSino menyatakan vaksin sekali pakai itu 65,28 persen efektif dalam mencegah infeksi bergejala 28 hari setelah vaksinasi. Kesimpulan tersebut diperoleh menurut analisis sementara dari uji klinis fase 3.

Vaksin tersebut dapat disimpan dan dikirim pada suhu 2 hingga 8 derajat Celsius (38–46 Fahrenheit). Sehingga lebih mudah diakses, terutama ke daerah dengan kesehatan masyarakat yang kurang terlayani. Vaksin itu dibangun di atas platform teknologi menggunakan vektor virus berbasis adenovirus yang telah dipelajari sejak 2003 dan menghasilkan vaksin ebola.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini