Menerka Potensi Munculnya Klaster Sekolah, Anak Rentan Terpapar Covid-19?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 07 Juni 2021 14:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 07 481 2421280 menerka-potensi-munculnya-klaster-sekolah-anak-rentan-terpapar-covid-19-7ddnnsPqfB.jpg Ilustrasi (Foto : Timesofindia)

SEKOLAH Tatap Muka direncanakan akan digelar di seluruh Indonesia pada Juli 2021. Ini merupakan keputusan teranyar Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim.

Meski begitu, Nadiem menegaskan bahwa orangtua memiliki hak mutlak untuk menentukan apakah anaknya boleh pergi ke sekolah atau tidak. Sehingga, tidak ada kesan paksaan untuk mengikuti sekolah tatap muka.

Di sisi lain, banyak kekhawatiran yang berhembus di masyarakat mengenai aktivitas sekolah tatap muka, salah satunya menyoal bakal adanya klaster Covid-19 di sekolah. Ketakutan ini sangat wajar muncul mengingat sampai saat ini pandemi belum mereda di Indonesia.

Sekolah Tatap Muka

Terlebih, varian baru Covid-19 yang terus berkembang memungkinkan risiko semakin besar jika melakukan sekolah tatap muka. Namun, vaksinasi Covid-19 pun terus dilakukan sebagai upaya pencegahan dan guru menjadi kelompok prioritas saat ini.

Baca Juga : 9 Hal Wajib Diperhatikan Orangtua Sebelum Izinkan Anak Belajar Tatap Muka di Sekolah

Lantas, apakah ketakutan akan munculnya klaster Covid-19 di sekolah besar risikonya?

Diterangkan Dokter Spesialis Anak Primaya Hospital Bekasi Timur, dr Tuty Mariana, Sp.A, hingga saat ini belum diketahui pasti risiko infeksi Covid-19 pada anak-anak. Badan Kesehatan Dunia (WHO) pun menyatakan bahwa dari jumlah total penderita Covid-19 di seluruh dunia, sebanyak 8,5 persen merupakan anak-anak berusia di bawah 18 tahun.

"Angka kematiannya pun lebih sedikit dan biasanya gejala yang muncul pada pasien anak lebih ringan. Namun, tetap ada laporan pasien anak-anak yang kritis," terangnya dalam laporan terbaru yang diterima MNC Portal, Senin (7/6/2021).

Sekolah Tatap Muka

Ia melanjutkan, sejumlah penelitian terbatas pernah dilakukan di sejumlah negara terkait kasus Covid-19 pada anak dan didapati risiko anak tertular Covid-19 itu lebih kecil ketimbang orang dewasa. Anak yang diteliti antara lain berumur di bawah 18 tahun, 15 tahun, dan 9 tahun.

Namun, berbeda dengan anak usia di bawah 1 tahun, mereka diketahui memiliki risiko terpapar Covid-19 lebih besar. Menurut dr Tuty, itu karena sistem kekebalan anak di bawah 1 tahun masih sangat lemah.

"Salah satu faktor yang memengaruhi risiko tersebut adalah sistem kekebalan. Pada usia anak di bawah 1 tahun, sistem kekebalan mereka masih lemah sehingga lebih rentan tertular Covid-19. Sedangkan, anak yang lebih besar sudah sering diserang virus dan bakteri sehingga daya tahan tubuhnya lebih terlatih," papar dr Tuty. Walau begitu, sambungnya, kemungkinan tersebut masih butuh penelitian lanjutan.

Hal lain yang disorot dr Tuty adalah peran anak dalam menyebarkan virus, menurutnya, berdasar data WHO, peran anak-anak dalam penularan Covid-19 secara umum belum sepenuhnya dipahami.

"Bahkan, hingga saat ini sejumlah klaster yang muncul di sekolah-sekolah di berbagai negara itu biasanya kejadiannya si anak yang terpapar gejalanya lebih sedikit dan sakitnya tak terlalu parah. Kasus positif kadang tak terdeteksi," ungkapnya.

Sekolah Tatap Muka

Data studi awal pun menunjukkan bahwa tingkat penularan di kalangan remaja lebih tinggi dibandingkan pada usia anak yang lebih muda.

"Yang pasti, kesadaran anak untuk menerapkan prokes di mana pun dia berada, termasuk di lingkungan sekolah, secara umum lebih rendah dibandingkan orang dewasa. Hal ini bisa menjadi salah satu faktor yang memengaruhi peran anak dalam penularan Covid-19 di sekolah," tambah dr Tuty.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini