Meluruskan Fakta Hoax Tak Boleh dengan Konsep Memaksa

Antara, Jurnalis · Senin 07 Juni 2021 18:24 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 07 612 2421432 meluruskan-fakta-hoax-tak-boleh-dengan-konsep-memaksa-B47FaQgAKE.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

INFORMASI salah atau hoaks memang banyak beredar sejak adanya pandemi Covid-19. Informasi hoax pun semakin bertambah banyak, apalagi mengenai vaksin Covid-19 dan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI).

Meski demikian, tidak semua orang paham jika mereka sebenarnya menyebarkan berita hoax. Oleh karena itu, Dokter spesialis penyakit dalam konsultan alergi imunologi dari RSCM, Suzy Maria mengingatkan, tak boleh ada konsep memaksa saat Anda berusaha meluruskan informasi yang salah.

Saat orang itu misalnya menyampaikan kekhawatirannya Anda bisa mendengarkannya dulu dan perlahan meluruskan informasi salah yang dia dengar. Misalnya, mengetahui apa yang dia khawatirkan, takutkan dari vaksinasi tersebut.

"Dengan cara yang baik kita coba jelaskan, meluruskan informasi tidak benar yang dia yakini. Tidak boleh ada konsep pemaksaan, ngotot-ngototan karena kalau seperti itu tidak ada habisnya," ujar dia dalam webinar Lansia Online yang diselenggarakan Geriatri.id bersama Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia (PERGEMI).

Kementerian Kominfo sendiri sudah menemukan 206 hoaks vaksin Covid-19 di berbagai platform media sosial dengan total sebaran 1.592. Dari angka itu, sebaran terbesar yakni 1.445 berasal dari Facebook, diikuti Twitter (82) dan YouTube (41). Demi menangani hoaks ini, Kementerian Kominfo menggandeng kementerian, lembaga maupun pemerintah daerah.

Di sisi lain, masyarakat juga diminta berhati-hati usai menerima informasi terkait vaksin dan memeriksa kebenaran informasi itu salah satunya dengan mengakses s.id/infovaksin.

Suzy mengatakan, pada prinsipnya obat atau vaksin memiliki manfaat juga efek samping. Namun efek samping ini sudah diketahui sejak vaksin dalam fase uji klinis.

Efek yang muncul lebih sering sifatnya ringan. Sementara bila itu fatal maka vaksin akan dihentikan penggunaannya atau izinnya sehingga tak akan digunakan siapapun.

Efek samping vaksin Sinovac dan AstraZeneca misalnya, bersifat sangat umum mulai seperti nyeri di bagian yang disuntik, rasa hangat atau gatal, bengkak, rasa tidak enak badan, lelah atau merasa demam dan nyeri kepala. Namun, ada juga orang yang tak mengalami efek apapun setelah divaksin.

"Yang paling sering efek samping yang ringan. Kalau ada yang fatal, pasti sudah ada tindak lanjutnya, dihentikan penggunaanya, tidak diizinkan dan sebagainya. Kita harus percaya yang namanya vaksinasi apalagi yang jadi program pemerintah itu sesuatu yang baik, banyak manfaatnya dan keamanannya sudah diyakinkan," tutur Suzy.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini