Anak Miliki Rasa Lapar Berlebih? Hati-Hati Penyakit Langka Sindrom Prader-Willi

Antara, Jurnalis · Selasa 08 Juni 2021 19:33 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 08 612 2422040 anak-miliki-rasa-lapar-berlebih-hati-hati-penyakit-langka-sindrom-prader-willi-zCY3AIiTkz.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

ORANGTUA mana yang tidak senang jika anaknya banyak makan? Tapi, ada perbedaan besar yang mendasar antara peningkatan nafsu makan yang besar pada anak, serta adanya rasa lapar berlebihan atau ekstrem yang terjadi sejak bayi.

Peningkatan rasa lapar pada anak, bisa jadi hanya mencerminkan perubahan normal dalam nafsu makan yang terkait dengan pertumbuhan dan perkembangan anak. Hal itu jauh berbeda dengan adanya nafsu makan berlebih, tanpa ada perubahan pola makan.

"Kasus balita dengan nafsu makan berlebihan sebenarnya agak jarang. Nafsu makan berlebihan mungkin dapat merupakan gejala dari kelainan bawaan seperti gangguan struktural pada area hipotalamus di otak," ujar dokter spesialis gizi dari RSIA Melinda Bandung, Dr Johanes Chandrawinata, SpGK, MND.

Anak Makan

Kondisi ini dikatakan Johanes bisa juga merupakan gejala penyakit seperti insulinoma di mana kelebihan produksi hormon insulin yang terus memacu balita untuk makan.

Nafsu makan yang berlebihan dan terjadi sejak bayi perlu diperhatikan, karena bisa jadi si kecil mengalami polyphagia, yang juga disebut hyperphagia, yaitu kondisi dimana seseorang terus menerus merasakan adanya rasa lapar yang ekstrim sehingga memiliki nafsu makan yang luar biasa besar.

Nafsu makan anak yang besar dapat dikaitkan dengan kondisi genetik langka seperti sindrom Prader-Willi, yang masing-masing terkait dengan hyperphagia atau polyphagia dan regulasi perilaku makan.

Johanes menjelaskan bahwa nafsu makan diatur oleh mekanisme homeostatic dan hedonic. Mekanisme homeostatic dipengaruhi oleh kebutuhan biologis untuk menjaga cadangan energi tubuh, meningkatkan motivasi untuk makan.

Sebaliknya, mekanisme hedonic dipengaruhi oleh “food reward “ (hadiah makanan), meningkatkan rasa ketagihan akan makanan yang sangat enak dan memacu keluarnya hormon dopamine dan serotonin yang menimbulkan rasa puas diri setelah makan.

"Pengaturan sistem nafsu makan pada balita dimulai di dalam kandungan dan ada berbagai determinan yang menyebabkan menurunnya kemampuan pengaturan diri atas asupan makanan," kata Johanes.

Sebagai contoh adalah faktor genetik, pengalaman pertama indra perasa dan pola makan atau pemberian makan dari lingkungan keluarga sebagai kunci utamanya untuk mengatur sistem nafsu makan tersebut.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini