Psikoterapis: Cara Terbaik Melawan Pemerkosa Adalah 'Speak Up'!

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 09 Juni 2021 12:50 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 09 612 2422411 psikoterapis-cara-terbaik-melawan-pemerkosa-adalah-speak-up-n43OMc3RY4.jpg Ilustrasi (Foto : Timesofindia)

ADANYA gerakan #MeToo di Amerika Serikat menjadi gerbang positif para korban pemerkosaan untuk berani 'speak up'. Tapi, ternyata gerakan itu malah memberi bumerang bagi sebagian korban.

Ya, sebagian korban pemerkosaan merasa takut untuk 'speak up' karena takut akan balasan yang mungkin akan dia dapatkan jika menceritakan pengalaman keji tersebut.

Menurut analisis RAINN dari Biro Statistik Departemen Kehakiman, dari 2005 hingga 2010, sebanyak 20 persen korban pemerkosaan mengatakan bahwa mereka tidak melaporkan serangan tersebut karena mereka takut akan pembalasan.

Kekerasan

Ya, sering kali penyintas tidak hanya dipersalahkan atas keadaan yang menyebabkan penyerangan misalnya karena baju yang mereka pakai atau karena efek alkohol, tetapi juga dikritik dalam cara mereka melawan atau tidak. Padahal ini sebuah kenyataan yang dapat mejadi sangat merusak mental penyintas.

Baca Juga : 5 Pesona Nora Alexandra, Istri Setia Jerinx SID yang Cantik Menawan

Pada situasi melawan, kebanyakan korban pemerkosaan mengalami kondisi yang dinamakan Tonic Immobility atau lumpuh sementara. Kondisi tersebut bukan menandakan ketidakberdayaan tetapi sebuah mekanisme alami tubuh sebagai cara pertahanan diri.

"Ini seperti reaksi rusa yang berhadapan dengan binatang buas. Dia membeku, padahal mungkin Anda berpikir seharusnya berlari menghindar. Tapi, si rusa memilih diam dan kaku," kata Beverly Engel, seorang psikoterapis dan juga penulis lebih dari 20 buku 'self-help pada ABC News.

"Pemerkosaan adalah tentang kekuasaan dan kontrol. Begitu pelaku merasa memiliki kekuatan dan kendali atas korbannya, mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Jika korban mencoba melawan, pelaku akan lebih agresif. Jadi, setiap orang harus memutuskan sendiri apa yang terbaik dalam situasi itu," tambahnya.

"Dalam situasi lain, korban memilih untuk melawan. Tetapi, pada akhirnya percayalah bahwa hanya ada satu cara yang benar yaitu melaporkan kejadian tersebut dan pulih dari serangan," ungkap Engel.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini