Mengenal Tonic Immobility, Alasan Korban Pelecehan Seksual Tak Bisa Teriak

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 09 Juni 2021 18:07 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 09 612 2422594 mengenal-tonic-immobility-alasan-korban-pelecehan-seksual-tak-bisa-teriak-4Gfn1bbI3x.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

PELECEHAN seksual memang bisa dialami baik oleh perempuan maupun laki-laki. Meskipun, pelecehan seksual cenderung lebih sering dialami oleh para perempuan.

Mungkin banyak dari orang mengatakan, kenapa tidak melawan atau setidaknya teriak? Nah, perlu Anda ketahui mendapatkan pelecehan seksual, seseorang cenderung sulit untuk bertindak.

Banyak pengakuan korban pelecehan seksual yang tak berdaya saat tindakan tersebut dialami. Mereka tak tahu harus berbuat apa, alhasil hanya terdiam tanpa perlawanan.

Pelecehan Seksual

Kondisi tersebut disebut dengan Tonic Immobility. Ya, kondisi di mana terjadi penghambatan motorik sementara. Ini dianggap sebagai metode pertahanan terakhir yang terjadi dalam situasi yang melibatkan ketakutan ekstrem.

"Tonic Immobility adalah strategi defensif yang tidak disengaja. 'Freeze response'," terang laporan laman Center for Clinical Psychology.

Meskipun si korban tidak bertindak, bukan artinya dia tidak sadar akan perilaku pelecehan seksual yang sedang dialami. Melainkan, si korban hanya tak bisa bergerak saat menerima pelecehan seksual.

Kondisi ini berbeda dengan yang dinamakan 'Disosiasi', yang mana mereka mungkin terputus dari lingkungan dan tubuh mereka, tetapi ini tidak berarti mereka berada dalam keadaan Tonic Immobility.

Lebih lanjut, dalam laporan studi berjudul 'Tonic Immobility during sexual assault - a common reaction predicting post-traumatic stress disorder and severe depression', dijelaskan di sana bahwa seseorang yang mendapat pelecehan seksual kebanyakan mengalami Tonic Immobility.

"Dari 298 perempuan yang diteliti, 70% dari mereka melaporkan mengalami Tonic Immobility dan 48% melaporkan mengalami Tonic Immobility yang sangat ekstrem saat dilecehkan," laporan studi yang diterbitkan di jurnal Acta Obstetricia et Gynecologica Scandinavica (AOGS).

Dijelaskan bahwa Tonic Immobility dikaitkan dengan perkembangan post-traumatic stress disorder (PTSD) dan depresi berat pada 6 bulan. "Selanjutnya, riwayat trauma sebelumnya dan riwayat pengobatan psikiatri dikaitkan dengan respon Toic Immobility," tambah laporan studi yang dipublis 2017.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini