Target Penanganan Covid-19 Dilihat Bed Occupancy Rate

Helmi Ade Saputra, Jurnalis · Kamis 10 Juni 2021 15:26 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 10 481 2423078 target-penanganan-covid-19-dilihat-bed-occupancy-rate-aEpYJzj8mc.jpg Ilustrasi. (Foto: Freepik)

BED Occupancy Rate menjadi acuan pengendalian kasus corona di Indonesia. Dalam pemantauannya, sumber daya alam dan teknologi harus sinkron.

Perwakilan Wakil Menteri Kesehatan RI dr Kirana Pritasari, MQIH, menekankan perlu adanya target guna menekan laju Pandemi Covid-19 berdasarkan 'Bed Occupancy Rate' yang tinggi. Baik di ruang isolasi maupun di ruang intensive care, mengacu pada tahun kedua pandemi di wilayah Pulau Sumatera dan pulau Jawa.

"Jadi target penanganannya adalah menekan kondisi pandemi sesegera mungkin dan serendah mungkin."

"Akan tetapi penambahan kasus tetap terjadi dengan terlihat dari Bed Occupancy Rate yang tinggi baik di ruang isolasi maupun di ruang intensive care", tutur dr. Kirana dalam Seminar Online dari Kajian administrasi Rumah Sakit Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ke-23 tahun 2021.

Kirana menyampaikan bahwa berdasar hasil dari peninjauan yang telah dilakukan terdapat sekitar 982 Rumah Sakit (RS) rujukan, 132 RS di antaranya merupakan rujukan dari Surat Keputusan (SK) Menteri Kesehatan, sisanya sebanyak 850 RS merupakan rujukan SK Gubernur. Dipersiapkan juga Rumah Sakit Lapangan sebanyak 43 RS yang diperuntukkan untuk merawat/isolasi pasien yang ringan. Sementara untuk laboratorium, sebanyak 830 unit.

Sementara itu, dikatakan dr Kirana, strategi penanganan pandemi di Indonesia meliputi 3 tahapan metode. Tahap pertama dengan meningkatkan deteksi, yaitu scalling up testing di seluruh Indonesia, meningkatkan pelacakan kontak erat.

Tahap kedua adalah terapi yang efektif dan meningkatkan pemantauan isolasi mandiri dan terpusat. Pemerintah perlu memastikan ketersediaan layanan Rumah Sakit (Tempat tidur, Tenaga kesehatan, Alat kesehatan, dan Obat) serta melakukan penelitian uji klinis terapi.

Metode ketiga adalah vaksinasi, yang menjamin ketersediaan vaksin dan logistik Cold Chain.

"Mengacu pada ketiga hal tersebut, kita perlu melakukan peningkatan dan penguatan sistem data pun Informasi Kesehatan Nasional," paparnya.

Perkembangan ini sangat didukung dan sangat tergantung terhadap kesiapan SDM sudah siap, guna melakukan pengambilan spesimen dan melakukan pemeriksaan laboratorium.

Sementara itu, Dr dr Bayu Prawira Hie, MBA menerangkan, penggunaan teknologi Digital Twin telah dikembangkan dan diterapkan sejak tahun 2017 di dunia kesehatan. Kini teknologi bukan lagi sebuah rancangan atau wacana kedepan.

"Teknologi sudah banyak merubah  mindset atau pola pikir kita saat ini",  tutur Dr.dr. Bayu Prawira Hie, MBA.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini