Bahaya di Balik Kelezatan Minuman Boba

Pradita Ananda, Jurnalis · Minggu 13 Juni 2021 09:51 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 13 298 2424358 bahaya-di-balik-kelezatan-minuman-boba-McjWog7wkz.jpg Boba (Foto: Asia pacific food industry)

MULAI jadi tren sekitar 2019, hingga kini minuman boba yang dipopulerkan dari Taiwan masih menjadi salah satu jenis minuman kekinian yang digemari banyak orang terutama generasi muda.

Rasa yang beragam, kemasan packaging yang menarik, dan tentu saja cita rasa yang menarik kombinasi kekenyalan pearl boba dan minuman milk tea yang manis dan menyegarkan jadi salah satu faktor minuman satu ini begitu disukai.

 minuman boba

Tapi jangan terlena terlebih dahulu, sebab nyatanya di balik kelezatan dan kesegaran minuman boba, ada bahaya yang mengintai dan bisa mengancam kesehatan tubuh. Risiko bahaya yang pertama ialah menaikkan berat badan.

Dikutip Times of India, satu porsi minuman boba biasanya mengandung sekitar 400 kalori dan sebagaimana dikatakan ahli diet, Kong Woan Fei, butiran bobanya saja sudah mengandung 150 kalori.

Dikatakan oleh Dr. Tan Wee Yong, Konsultan Dokter Ahli Penyakit Dalam Columbia Asia Hospital, satu porsi minuman boba atau bubble tea mengandung 20 sendok teh gula, jauh melebihi level kadar asupan gula harian normal orang dewasa.

“Iya bisa menaikkan berat badan, penjahat utamanya adalah gula yang ada di minuman tersebut. Rata-rata satu porsi minuman bubble tea mengandung 20 sendok teh gula. Untuk orang dewasa normal yang sehat, dianjurkan untuk mengonsumsi tidak lebih dari delapan sendok teh gula sehari,” kata Dr. Tan Wee, dikutip Columbia Asia.

Selain tinggi kalori, faktanya minuman boba disebutkan mengandung karbohidrat tinggi dan minim nutrisi penting seperti serat, vitamin dan mineral. Mengurangi level gula atau menggantinya dengan pemanis buatan seperti gula aren atau bubuk sweeteners tak menjadikan minuman boba bebas bahaya.

Ancaman bahaya berikutnya, yakni resiko memicu diabetes. Disebutkan Kong Woan Fei, minum minuman boba memang tak secara langsung mengakibatkan penyakit diabetes tapi efeknya datang secara berkala.

“Minum bubble tea tidak akan menyebabkan diabetes secara langsung. Namun, kandungan gulanya dapat menyebabkan risiko tinggi tidak hanya diabetes. Tetapi juga sistem kekebalan tubuh yang rendah, penuaan dini dan kerusakan gigi,” ujarnya.

Selanjutnya, ancaman bahaya yang lebih spesifik seperti masalah pencernaan dan stamina bisa dialami oleh kelompok usia tertentu, contohnya pada anak-anak dan orang lanjut usia.

“Minuman ini tidak cocok untuk anak kecil dan orang tua, karena mengandung pewarna dan bahan tambahan makanan tertentu. Hal ini dapat menyebabkan anak menjadi hiperaktif. Bagi lansia, sistem pencernaannya lebih lambat dan kurang aktif sehingga bahan tambahan makanan dapat menyebabkan gangguan pencernaan. Pearl atau boba dalam minuman bubble tea sulit dicerna bagi orang tua,” imbuh Dr. Tan Wee.

Senada dengan penjelasan Dokter Tan Wee, Kong Woan Fei dengan gamblang menyebutkan kandungan gula yang tiga kali lipat lebih tinggi daripada minuman soda pada minuman boba memang memberikan dampak negatif pada sistem metabolisme orang lansia dan kembang tumbuh anak-anak.

“Satu porsi minuman boba mengandung 20 sendok teh gula, asupan gula untuk anak-anak tidak boleh lebih dari 5 sendok teh sehari. Anak-anak tidak boleh ditawari minuman tinggi gula karena menimbulkan risiko obesitas, gula akan membuat mereka kenyang sehingga susah untuk mengonsumsi makanan bergizi yang penting bagi kembang tumbuhnya. Untuk orang tua, seiring bertambahnya usia, metabolisme tubuh melambat dan semakin memperlambat metabolisme sehingga membuat Anda merasa lelah dan lesu,” pungkasnya.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini