Markis Kido Meninggal Dunia, Kenali Penyebab Atlet Bisa Collaps Mendadak

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Senin 14 Juni 2021 22:05 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 14 481 2425128 markis-kido-meninggal-dunia-kenali-penyebab-atlet-bisa-collaps-mendadak-dX0R9yJpG9.jpg Markis Kido (Foto : PBSI)

KABAR duka datang dari dunia olahraga, Markis Kido meninggal dunia pada Senin (14/6/2021). Pebulu tangkis peraih medali emas Olimpiade Beijing 2008 tersebut meninggal dunia pada usia 36 tahun.

Hingga saat ini, belum diketahui secara pasti apa penyebab meninggalnya atlet kelahiran 11 Agustus 1984 tersebut. Namun, dari kabar yang beredar Markis Kido meninggal karena mengalami serangan jantung. Kabar duka tersebut juga telah dikonfirmasi langsung oleh Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI).

Merangkum dari Marshfieldclinic, Senin (14/6/2021), Kardiologis dari Marshfield Clinic, John Hayes, M.D. mengatakan bahwa kejadian atlet yang tiba-tiba mengalami kolaps sudah banyak terjadi. Ia pun mencoba untuk menjelaskan berbagai risiko yang menjadi penyebabnya.

Markis Kido

(Foto : Hendra Setiawan dan Markis Kido)

Menurut Hayes, salah satu penyakit yang tidak terduga dan kerap dialami oleh atlet adalah henti jantung mendadak atau Sudden Cardiac Arrest (SCA). Akibatnya seorang atlet bisa saja ambruk secara tiba-tiba tanpa adanya peringatan sebelumnya.

Baca Juga : Breaking News: Legenda Bulu Tangkis Indonesia Markis Kido Meninggal Dunia

Fenomena SCA ini memang jarang terjadi. Diperkirakan kejadian ini hanya menimpa satu dari 200 ribu atlet per tahun. Kondisi ini bisa terjadi akibat adanya trauma atau heat stroke. Meski demikian, sebagian besar SCA disebabkan oleh penyakit kardiovaskular yang mendasarinya.

"Dengan tuntutan tenaga fisik yang intens, penyakit ini membuat jantung cenderung mengembangkan irama yang cepat dan kacau yang disebut fibrilasi ventrikel," terang Hayes.

Baca Juga : Markis Kido Meninggal Dunia saat Bermain Bulu Tangkis di Tangerang

Ritme jantung dapat dikembalikan normal dan kehidupan atlet hanya bisa diselamatkan apabila defibrilasi ekstrnal dilakukan dengan cepat. Banyak kondisi yang membuat atlet berisiko mengalami SCA. Namun risiko tersebut dapat diketahui dengan pengamatan fisik saat olahraga. Terkadang pengujian diagnostik juga diperlukan.

Beberapa gejala yang bisa dikenali sejak awal di antaranya:

1. Nyeri dada saat beraktivitas

2. Sesak napas

3 .Pusing

4. Pingsan

5. Sensasi detak jantung cepat (Palpitasi)

Jika seorang atlet memiliki gejala-gejaa seperti ini, maka membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Jika ditemukan hal yang tidak wajar seperti ini, seseorang juga tidak boleh ikut berpartisipasi dalam pertandingan kompetitif.

Selain itu orangtua juga wajib menyadari riwayat penyakit jantung secara turun-temurun, terlebih jika ada kerabat mereka yang meninggal mendadak pada usia muda.

Jika mengalami SCA, Resusitasi Kardio-pulmonal (PCR) harus segera dilakukan dan defibrilator eksternal otomatis (AED) juga harus dilakukan sesegera mungkin.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini