Cek Fakta: Anestesi Setelah Covid-19 Berbahaya, Sebabkan Kematian

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 15 Juni 2021 18:22 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 15 612 2425619 cek-fakta-anestesi-setelah-covid-19-berbahaya-sebabkan-kematian-jbkizKf8sL.jpg Ilustrasi Vaksin. (Foto: Freepik)

DI tengah upaya pemerintah mendorong vaksinasi Covid-19, ada saja orang yang berusaha untuk menyisipkan pesan-pesan bohong alias hoax.

Nah, belakangan tengah ramai beredar anestesi usai divaksin malah sebabkan kematian. Informasi ini beredar luas di WhatsApp grup dan membuat sebagian orang khawatir mengenai kebenarannya. Seperti apa isi pesan tersebut?

"Peringatan dan peringatan


Siapapun yang telah divaksinasi virus corona dilarang menggunakan segala jenis anestesi, baik anestesi lokal maupun anestesi dokter gigi, karena hal ini sangat membahayakan nyawa orang yang divaksinasi, sangat berbahaya, dan dapat langsung meninggal," terang isi pesan berantai tersebut.

Hoax

Tak berhenti di situ, pesannya pun berlanjut mengenai anjuran ada baiknya kapan mendapatkan anestesi usai divaksin Covid-19.


"Oleh karena itu, orang yang divaksinasi harus menunggu 4 minggu setelah divaksinasi. Jika dia terinfeksi dan sembuh, dia dapat menggunakan anestesi 4 minggu setelah sembuh dari infeksi coronavirus," katanya.

Pesan yang tidak diketahui sumber aslinya itu pun menceritakan salah satu kerabat si pengirim pesan yang menjadi korban dari penggunaan anestesi pascavaksinasi. Di situ, si pembuat pesan pun mengimbau agar masyarakat tidak menjadi korban selanjutnya.

"Seorang kerabat dari seorang teman divaksinasi dua hari yang lalu, pergi ke dokter gigi kemarin dan meninggal segera setelah diberi anestesi lokal! Setelah membaca peringatan tentang vaksinasi coronavirus, pada kotak vaksin, kami menemukan bahwa setelah menyelesaikan vaksin coronavirus, ada peringatan untuk tidak menggunakan anestesi!


Mohon sebarkan informasi ini untuk melindungi keluarga, saudara, teman, dan semua orang," lanjut isi pesan berantai tersebut.

MNC Portal pun coba mencari tahu kebenaran pesan berantai tersebut ke Ahli Kesehatan Prof Ari Fahrial Syam, dan menurutnya itu informasi yang keliru alias hoax. "Itu informasi hoax," tegasnya melalui pesan singkat, Selasa (15/6/2021).

Prof Ari pun berharap agar masyarakat tidak mudah memercayai informasi yang beredar dan tak sungkan mencari kebenarannya di laman resmi pemerintah atau yang terpercaya. "Saya rasa polisi harus mengusut hoax seperti ini dan masyarakat juga jangan membagikan hoax ini," pesan Prof Ari.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini