Jumlah KB Pria Masih Rendah, Ternyata Ini Penyebabnya

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 16 Juni 2021 11:31 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 16 481 2425965 jumlah-kb-pria-masih-rendah-ternyata-ini-penyebabnya-YGHPWxDiWa.jpg Ilustrasi keluarga berencana (KB). (Foto: Shutterstock)

DATA Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) 2020 mencatat bahwa hanya 3,12 persen laki-laki Indonesia menggunakan kondom dan 0,5 persen yang melakukan vasektomi untuk program keluarga berencana (KB).

Hal ini dinilai mengkhawatirkan, sebab menjalankan program keluarga berencana bukan hanya tanggung jawab perempuan, melainkan perlu dukungan laki-laki. Itulah kenapa KB pria dihadirkan, tetapi masih sangat rendah cakupannya.

Baca juga: Pandemi Covid-19 Sebabkan Penggunaan KB Turun 

Ada beberapa penyebab masih rendahnya penggunaan KB pria di masyarakat, misalnya akses pelayanan kesehatan yang minim. Lalu masalah lain yang banyak terjadi adalah adanya anggapan keliru masyarakat mengenai kondom dan vasektomi.

Ilustrasi KB pria. (Foto: Medicaldaily)

"Partisipasi pria dalam program KB di Indonesia mengalami peningkatan yang lambat dari tahun ke tahun. Hal ini dikarenakan berbagai faktor, antara lain minimnya akses ke pelayanan kesehatan, tatanan sosial, serta rumor negatif mengenai penggunaan kontrasepsi untuk pria," ungkap dr Raymond Nadeak MH(Kes), kepala seksi peningkatan partisipasi KB pria BKKBN, dalam keterangannya.

Baca juga: Peneliti Temukan Kontrasepsi Baru untuk Cegah Kehamilan, Cukup Tempel ke Kulit Saja 

Ia tidak menampik bahwa masih banyak pria Indonesia yang percaya kalau berhubungan intin menggunakan kondom itu enggak enak. Ini menjadi masalah yang cukup besar dalam menyukseskan KB pria.

"Rumor negatif seperti pakai kondom tidak enak, vasektomi dapat menghilangkan kejantanan, hingga menimbulkan disfungsi ereksi; itu sangat tidak benar," tegasnya.

Ia melanjutkan, sebagai penanggulangan masalah tersebut, BKKBN telah melakukan berbagai kegiatan komunikasi dan informasi, antara lain sosialisasi dan webinar untuk menguatkan kelompok KB pria di kalangan masyarakat.

"Hingga saat ini sudah terdapat 1.300 kelompok KB pria dengan minimum 10 orang anggota di setiap kelompok. Para anggota tersebut selanjutnya akan membantu untuk mengomunikasikan pentingnya keterlibatan pria dalam ber-KB," tambah dr Raymond.

Baca juga: Studi: Koktail Antibodi AstraZeneca Kurang Efektif Cegah Covid-19 

Dia menegaskan sekali lagi bahwa urusan KB itu bukan hanya dipikul istri, melainkan suami mesti terlibat di dalamnya. Sebab, urusan KB adalah tanggung jawab kedua belah pihak.

"Apalagi pada saat pandemi covid-19 ini di mana kejadian kehamilan tidak direncanakan juga mengalami peningkatan lebih dari 10 persen," jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini