Uji Klinis Fase II, Peneliti Ungkap Efek Samping Vaksin Nusantara Dokter Terawan

Siska Permata Sari, Jurnalis · Kamis 17 Juni 2021 04:37 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 16 481 2426380 uji-klinis-fase-ii-peneliti-ungkap-efek-samping-vaksin-nusantara-dokter-terawan-UFBTfKqKqe.jpg Ilustrasi Vaksin Nusantara. (Foto: Jcomp/Freepik)

PENELITI Utama Vaksin Nusantara RSPAD Gatot Subroto, dr Jonny SpPD-KGH, mengungkap hasil uji klinis fase II. Uji klinis tersebut melibatkan 136 subjek yang berhasil menyelesaikan penelitian.

Vaksin Nusantara adalah vaksin covid-19 gagasan mantan menteri kesehatan Dokter Terawan Agus Putranto. Vaksin covid-19 tersebut berbasis sel dendritik.

Baca juga: Kemenkes hingga TNI Hentikan Uji Klinis Vaksin Nusantara, Terawan Ngadu ke Komisi 7 DPR 

Sel dendritik adalah antigen presenting cell (APC) yang disebut memiliki 10 hingga 100 kali lebih poten daripada APC lain untuk menginduksi sel T.

"Sel T ini penting untuk imunitas kita," kata dr Jonny dalam rapat bersama Komisi VII DPR RI, seperti dikutip dari YouTube Komisi VII DPR RI Channel, Rabu 16 Juni 2021.

Dia menjelaskan, hasil uji klinis Vaksin Nusantara dari dr Terawan tercatat tidak ada subjek yang mengalami kejadian tidak diinginkan (KTD) serius. Dilaporkan bahwa subjek hanya mengalami reaksi lokal atau KTD kategori ringan.

"Hasilnya adalah ini ada kejadian tak diinginkan itu semuanya derajatnya ringan, yaitu didapatkan 21 subjek atau sekitar 15,44 persen yang mengeluhkan sebanyak 24 reaksi lokal yang berupa pegal, memar, kemerahan, gatal, dan terutama yang paling banyak adalah pegal di titik penyuntikan," jelasnya.

Baca juga: Terawan Akui Sengaja Gandeng Amerika Buat Vaksin Nusantara, Kenapa? 

Dilihat dari data penelitian tersebut, KTD yang tercatat adalah pegal sebanyak 17 orang, memar 3 orang, kemerahan 3 orang, dan gatal 1 orang.

"Pada follow-up minggu ke-1 sampai ke-4, tidak didapatkan kejadian tak diinginkan reaksi sistemik, tidak didapatkan kejadian serious adverse event pada seluruh subjek hingga minggu ke-4 setelah vaksinasi," ungkapnya.

Berdasarkan penelitian itu disimpulkan bahwa Vaksin Nusantara sampai saat ini keamanannya baik karena belum atau tidak ada KTD yang kategori berat atau serius.

Perlu diketahui, uji fase II ini juga memeriksa tiga formulasi yaitu 0,1 mikrogram; 0,3 mikrogram; dan 1,0 mikrogram.

"Ketiga dosis antigen protein-S yang dipakai dalam penelitian ini, ketiganya meningkatkan imununogenitas seluler. Dosis antigen protein-S minimal yang dapat memberikan imununogenitas seluler optimal adalah 0,1 mikrogram," pungkasnya.

Baca juga: Terawan Ditanya Kenapa Vaksin Nusantara Dianggap Bahaya, Jawabannya Mengejutkan! 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini