DBD atau Kena Covid-19? Yuk Kenali Perbedaan Gejalanya

Pradita Ananda, Jurnalis · Kamis 17 Juni 2021 18:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 17 612 2426802 dbd-atau-kena-covid-19-yuk-kenali-perbedaan-gejalanya-DHxwLbsiIE.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

DI masa pandemi ini, kita memang harus menerapkan berbagai protokol kesehatan untuk menghindari tertular Covid-19. Meski begitu, bukan berarti kita abai dengan penyakit-penyakit lainnya.

Apalagi, saat ini tengah rentan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Nah, yang harus diwaspadai juga adalah baik penyakit DBD atau pun infeksi Covid-19 sama-sama memiliki salah satu gejala yang sama, yakni demam. Walaupun gejala demam terjadi di antara kedua penyakit tersebut namun polanya berbeda.

Lalu, apa saja perbedaan antara demam yang terjadi akibat penyakit DBD dengan demam akibat terpapar Covid-19?

Dikutip dari akun Instagram resmi Kementerian Kesehatan RI, Kamis (17/6/2021) untuk gejala demam pada penyakit DBD pertama bisa dilihat jangka waktunya, fase demam akibat diremia atau adanya virus di dalam darah, biasanya sampai kurang lebih tiga hari, demam akibat DBD diketahui sulit diatasi atau diturunkan dengan obat.

DBD

Seperti dikatakan oleh dokter spesialis anak, dr. Mulya Rahma Karyanti Sp.A (K) dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), sifat demam karena DBD juga lebih mendadak dan langsung ke suhu tinggi.

“Pada infeksi dengue biasanya demam terjadi mendadak tinggi, namun setelah hari ketiga pada saat memasuki fase kritis, yang harus diperhatikan adalah anak jangan sampai kekurangan cairan obat. Sebab di fase inilah terjadi kebocoran pembuluh darah yang bisa menyebabkan kematian,” ujar dr. Mulya Rahma Karyanti Sp.A (K).

Selain itu, ketika terserang virus DBD, pengidap juga biasanya mengalami merah-merah khas di bagian wajah. Untuk DBD sendiri, fase hari pertama sampai hari ketiga itu demam, hari ketiga hingga keenam itu fase kritis, dan fase setelah hari ke-6 adalah fase penyembuhan.

Sementara untuk infeksi Covid-19, demam yang dialami biasanya diikuti dengan masalah di pernapasan (respirasi) seperti adanya batuk, sesak napas, susah menelan dan anosmia atau hilangnya kemampuan indra penciuman.

“Pada Covid-19, demam bisa tinggi tapi bisa disertai dengan batuk pilek dan bertambah sesak. Terutama masa kritisnya adalah pada akhir fase minggu pertama, di sini lah saturasi oksigen bisa menurun,” tambah dr. Mulya Rahma Karyanti Sp.A (K).

Beda dengan DBD yang demamnya membuat wajah sang pengidap jadi merah, demam karena infeksi Covid-19 tak membuat wajah pengidapnya kemerahan. Terakhir, pada infeksi Covid-19 itu hari pertama demam lalu antara hari ke-5 hingga hari ke-7 mulai ada gejala respitorik dan saturasi oksigen mulai menurun.

Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati, maka dari itu jangan lupa untuk tetap disiplin menjaga daya tahan tubuh tetap sehat, aktif melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus, dan jangan lengah jika sudah ada gejala DBD. Maka secepat mungkin untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat, agar penanganannya tidak terlambat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini