Belajar dari Kejadian Markis Kido, Bolehkah Orang Hipertensi Main Badminton?

Antara, Jurnalis · Jum'at 18 Juni 2021 04:33 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 17 612 2426910 belajar-dari-kejadian-markis-kido-bolehkah-orang-hipertensi-main-badminton-ZfPUUreder.jpg Ilustrasi. (Foto: Freepik)

LEGENDA bulutangkis nasional Markis Kido berpulang beberapa hari lalu saat sedang bermain bulutangkis atau badminton. Dari catatan medis pun diketahui bahwa Markis Kido mengalami darah tinggi atau hipertensi.

Memang, hipertensi bisa memberi tekanan pada dinding pembuluh darah yang akhirnya bisa memicu berbagai masalah pada sistem peredaran darah. Akibatnya, stroke hingga serangan jantung bisa saja terjadi, lantaran penebalan dan pengerasan arteri.

Lantas, bolehkah mereka yang memiliki hipertensi bermain Badminton? Dokter spesialis jantung dan pembuluh dari dari Universitas Padjadjaran, Vito A. Damay pun memberikan pendapat. "Untuk hipertensi yang terkontrol sebenarnya tidak apa apa, artinya terkontrol itu stabil normal dengan obat," ujar dia.

Hanya saja, terkadang penyandang hipertensi tak sadar penyakitnya sudah menyebabkan komplikasi seperti penebalan jantung atau pembengkakan jantung.

Oleh karena itu, Vito yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) itu mengingatkan pentingnya pemeriksaan di organ target komplikasi hipertensi seperti Elektrokardiogram (EKG), foto x-ray atau echo, laboratorium fungsi ginjal, kolesterol serta gula darah dan pemeriksaan saraf mata.

Selain itu, orang dengan hipertensi dan pada umumnya juga perlu menjaga detak jantung maksimal agar tahu olahraga yang dilakukan memenuhi tujuan atau tidak terutama untuk meningkatkan kesehatan jantung.

Cara menghitungnya yakni 220 dikurangi usia lalu dikali 60-70 persen, untuk mendapatkan kisaran target detak jantung intensitas sedang. Menurut Vito, olahraga yang baik untuk kesehatan jantung adalah 60-70 persen dari detak jantung maksimal menurut usia. Amannya paling tinggi 85 persen.

"Lain halnya kalau Anda seorang atlet atau ingin mencapi prestasi tertentu, karena itu perlu latihan bertahap dan dibawah pengawasan profesional," tutur dia.

Lebih lanjut, mengenai olahraga ekstrem yang berat dan jangka panjang berpotensi menyebabkan kerusakan otot jantung masih dalam penelitian.

Sejauh ini, studi menemukan kerusakan otot jantung dari MRI jantung terjadi pada sebagian kecil orang yang melakukan olahraga ekstrem berat jangka panjang.

Walau begitu, sebagian besar orang tidak melakukan olahraga seperti ini, dan batasan olahraga ekstrim berat jangka panjang itu sangat sulit dicapai kebanyakan orang.

Vito berpesan, Anda atlet, pegiat olahraga atau bukan keduanya, sebaiknya bijak dalam menentukan intensitas latihan Anda.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini