Covid-19 Melonjak, Ketua IDAI Tidak Izinkan Anak-Anak Sekolah Tatap Muka

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Sabtu 19 Juni 2021 04:07 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 18 481 2427510 covid-19-melonjak-ketua-idai-tidak-izinkan-anak-anak-sekolah-tatap-muka-MmMZwBtunh.jpg Ilustrasi sekolah tatap muka. (Foto: Okezone)

MELONJAKNYA kasus covid-19 memengaruhi banyak sektor kehidupan. Bukan hanya soal rumah sakit yang penuh, tetapi juga kepastian sekolah tatap muka yang direncanakan serempak dimulai pada Juli 2021.

Ya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta misalnya memutuskan menghentikan sekolah tatap muka karena kenaikan kasus covid-19 ini.

"Kami putuskan untuk saat ini tidak dilanjutkan pembelajaran tatap muka sambil menunggu situasi DKI Jakarta terkendali," kata Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti beberapa waktu lalu.

Baca juga: Jangan Sepelekan Covid-19 pada Anak, IDAI Ungkap Risiko Terbesarnya 

Hal serupa juga disampaikan Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Profesor Aman Pulungan. Ia mengatakan untuk saat ini ada baiknya segala aktivitas yang melibatkan anak dilakukan secara daring, termasuk sekolah.

"Aktivitas apa pun yang melibatkan anak-anak saat ini harus dilakukan secara daring sampai kondisi terkendali, termasuk sekolah," saran Prof Aman dalam konferensi pers virtual, Jumat 18 Juni 2021.

Ada alasan yang cukup kuat ia memberikan saran tersebut. Adalah kasus covid-19 anak yang makin mengkhawatirkan. Menurut data yang dihimpun IDAI, 1 dari 8 kasus positif covid-19 adalah usia anak.

"Proporsi kasus covid-19 anak-anak itu 12,5 persen di Indonesia dengan angka kematian tertinggi di dunia," tambahnya.

Baca juga: Kelompok Antivaksin Masih Berkeliaran, Ketua IDAI Minta Pemerintah Tarik Rem Darurat! 

Data terbaru yang sangat miris mengenai kasus covid-19 anak tergambar dari situasi di DKI Jakarta. Ya, ada 661 kasus covid-19 pada usia anak 0 hingga 18 tahun dengan 144 kasus dialami usia balita.

Dengan gambaran kondisi tersebut, Prof Aman baru akan memperbolehkan sekolah tatap muka jika positivity rate Indonesia di bawah 5 persen. "Sedangkan positivity rate kita saja 37 persen," tegasnya.

Meski pemerintah sudah mengeluarkan imbauan mengenai zona hijau boleh menyelenggarakan sekolah tatap muka dengan kapasitas 50 persen dan adanya batasan waktu, tetap saja bagi Prof Aman menilai itu tidak aman.

"Kami tetap menganggap tidak ada yang namanya daerah zona hijau, zona merah, karena enggak ada batas di antara wilayah itu. Jadi, tolong kita melihat secara bijaksana," ungkapnya.

Baca juga: IDAI Sarankan Belajar Tatap Muka di Sekolah Ditunda Sampai Persebaran Covid-19 Terkendali 

Prof Aman pun menyarankan pemerintah agar sekolah tatap muka boleh diselenggarakan asalkan setiap daerah memiliki lab genom sequencing.

"Ini penting sekali karena penyebaran varian baru sudah terbukti ada di tengah masyarakat dan jangan biarkan anak-anak kita ikut diserang varian covid-19," tambahnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini