Mengenal Listeriosis, Infeksi Berbahaya pada Ibu Hamil dan Bayi

Intan Rakhmayanti Dewi, Jurnalis · Senin 21 Juni 2021 04:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 20 481 2428159 mengenal-listeriosis-infeksi-berbahaya-pada-ibu-hamil-dan-bayi-8tO0TXPmxs.jpg Ilustrasi ibu hamil. (Foto: Shutterstock)

BAGI para ibu hamil wajib memerhatikan makanan yang akan dikonsumsi. Tujuannya untuk mencegah infeksi bakteri listeria. Listeria adalah sejenis bakteri yang ditemukan di beberapa makanan yang terkontaminasi. Sedangkan listeriosis adalah penyakit yang disebabkan bakteri listeria. Penyakit ini dapat menyebabkan masalah bagi ibu hamil dan bayi yang dikandung.

Bakteri Listeria monocytogenes (L monocytogenes) diklasifikasikan sebagai bakteri gram-positif, dan bergerak menggunakan flagella.

Penelitian menunjukkan bahwa 1–10 persen manusia mungkin memiliki L monocytogenes di dalam ususnya. Bakteri ini juga telah ditemukan pada setidaknya 37 spesies mamalia, baik hewan peliharaan maupun hewan liar, serta pada setidaknya 17 spesies burung, dan mungkin pada beberapa spesies ikan dan kerang.

Baca juga: Benarkah Jamur Enoki Berbahaya Dikonsumsi? 

Ilustrasi bakteri listeria.

Gejala Listeriosis

Dikutip dari laman Kementerian Kesehatan RI, gejala listeriosis dapat muncul kapan saja antara 3–70 hari usai infeksi bakteri listeria, rata-rata sekira 21 hari. Gejala umumnya yaitu demam, nyeri otot, disertai mual atau diare (kurang umum).

Jika infeksi menyebar ke sistem saraf pusat (SSP), gejala dapat mencakup sakit kepala, kaku pada leher, bingung, kehilangan keseimbangan, dan terkadang mengalami kejang.

Bagi mereka yang memiliki sistem kekebalan yang lemah, bakteri listeria dapat menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan meningitis atau infeksi otak.

Baca juga: Heboh Wabah Penyakit dari Jamur Enoki, Ini Tips Cegah Listeria di Lemari Es 

Pada ibu hamil yang terinfeksi, muncul gejala seperti flu ringan. Namun, infeksi selama kehamilan dapat menyebabkan keguguran, infeksi pada bayi yang baru lahir, atau bayi lahir mati.

Gejala juga biasanya muncul pada bayi baru lahir di minggu pertama kehidupan, tetapi dapat terjadi di kemudian hari. Gejala pada bayi baru lahir sering tidak terlihat, tapi dapat berupa tanda seperti lekas marah, demam, dan tidak mau makan.

Sumber Penularan

Sumber penularan L monocytogenes dapat terjadi pada beberapa aspek mulai dari pemilihan makanan, pengolahan, hingga penyajian.

Pada pemilihan makanan penularan biasanya terjadi pada produk seperti susu mentah, susu yang proses pasteurisasinya kurang benar, keju (terutama jenis keju yang dimatangkan secara lunak), es krim, sayuran mentah, sosis dari daging mentah yang difermentasi, daging unggas mentah dan yang sudah dimasak, semua jenis daging mentah, serta ikan mentah atau ikan asap.

Baca juga: CDC Ungkap Proses Bakteri Listeria Menginfeksi Manusia dari Jamur Enoki 

Pada saat pengolahan makanan juga dapat terjadi penularan jika menggunakan alat masak yang telah terkontaminasi L monocytogenes.

Selain itu, bayi bisa lahir dengan listeria jika ibu hamil memakan makanan yang terkontaminasi bakteri selama kehamilan.

Diagnosis dan Pencegahan

Listeriosis hanya dapat didiagnosis secara pasti dengan cara membiakkan organisme ini dari darah, cairan cerebrospinal yaitu cairan otak dan sumsum tulang belakang, atau kotoran.

Untuk pencegahan, ada beberapa langkah pencegahan agar terhindar dari infeksi bakteri Listeria, yakni bilas bahan mentah dengan air mengalir, seperti buah-buahan dan sayuran, sebelum dimakan, dipotong, atau dimasak.

Menggosok produk hasil pertanian, seperti melon dan mentimun, dengan menggunakan sikat bersih sebelum disimpan, dan keringkan produk dengan kain bersih atau kertas.

Baca juga: Ternyata Dokter Gigi Bisa Deteksi Kehamilan Seseorang Loh 

Selain itu, pisahkan daging mentah dan unggas dari sayuran, makanan matang, dan makanan siap-saji. Tidak lupa untuk cuci peralatan masak, berupa alat atau alas pemotong, yang telah digunakan untuk daging mentah, unggas, produk-produk hewani sebelum digunakan pada produk makanan lainnya.

Serta jangan lupa mencuci tangan menggunakan sabun sebelum mengolah makanan, dan saat akan makan.

Pencegahan secara total mungkin tidak dapat dilakukan, namun makanan yang dimasak, dipanaskan dan disimpan dengan benar umumnya aman dikonsumsi karena bakteri ini akan mati pada temperatur 75 Celsius.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini