Efektivitas GeNose Dipertanyakan, Pakar Kesehatan: Hanya Opini Publik!

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Rabu 23 Juni 2021 06:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 22 481 2429129 efektivitas-genose-dipertanyakan-pakar-kesehatan-hanya-opini-publik-81Q9lWyoQK.jpg GeNose (Foto: Okezone)

RUPANYA efektivitas GeNose dalam mendeteksi orang yang terinfeksi Covid-19 tengah menjadi perbincangan saat ini. Alat tes Covid-19 yang digunakan dengan mengambil sampel napas manusia tersebut dinilai memiliki hasil yang bertolak belakang dengan tes antigen.

Melalui akun media sosial, sejumlah pelaku perjalanan menceritakan pengalamannya. Sebagian dari mereka yang mendapatkan hasil positif saat dites menggunakan antigen, justru memperoleh hasil negatif saat diperiksa melalui GeNose. Hal ini memicu Pakar Biologi Molekuler, Ahmad Utomo angkat suara.

 Genose

Ia menilai GeNose kemungkinan bisa menjadi dalang dari kenaikan kasus Covid-19 di Tanah Air, karena tidak bisa akurat dalam mendeteksi kasus positif bagi para pelaku perjalanan yang menggunakan moda transportasi. Ia pun pemerintah untuk melakukan penghentian sementara terkait penggunaan GeNose.

Hingga saat ini belum ada klarifikasi maupun pernyataan resmi dari pihak berwenang maupun terkait dengan GeNose.

Menanggapi kasus ini, Influencer Kesehatan sekaligus Dokter Relawan Covid-19, dr. Muhamad Fajri Adda’i pun memberikan tanggapannya terkait kasus GeNose di Tanah Air.

“Jadi ini adalah opini publik, kejadian di publik yang tidak bisa kita elakkan apapun itu. Tidak hanya GeNose, PCR pun juga begitu. Ada 2.900 orang di luar negeri, di Indonesia PCR negatif tapi tapi nyatanya positif, setelah dikarantina 5 hari. Tapi bukan berarti PCR-nya ngaco, tapi ada proses interpretasi yang harus dipahami orang dalam pemahaman ini,” terang dr. Fajri, saat diwawancarai MNC Portal, Selasa (22/6/2021).

Lebih lanjut, dr. Fajri mengatakan bahwa dirinya membutuhkan data yang jelas dan lengkap untuk bisa menginterpretasikan kasus terkait GeNose. Kasus ini masih menunggu tanggapan dari regulator Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) atau mungkin lembaga lain yang lebih berwenang.

“Kalau Pak Ahmad bilang GeNose harus distop, ya itu opini beliau. Kalau saya, butuh data lebih lanjut untuk bisa menilai bagaimana sebenarnya. Selama tidak ada data dan klarifikasi bagaimana kita bisa menilai efikasi dan elemen yang terkait GeNose ini,” tuntasnya.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini