Share

23 Juni Diperingati sebagai Hari Janda Internasional, Ketahui Sejarahnya

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 23 Juni 2021 10:05 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 23 612 2429501 23-juni-diperingati-sebagai-hari-janda-internasional-ketahui-sejarahnya-zRD1bjj8xj.jpg Ilustrasi Hari Janda Internasional. (Foto: Mindandi/Freepik)

HARI Janda Internasional diperingati setiap tanggal 23 Juni. Peringatan ini sudah diramaikan di dunia sejak 2011 dengan tujuan menarik perhatian suara para janda, menyoroti masalah yang dihadapi janda, dan menggalang dukungan untuk mereka.

"Hari Janda Internasional adalah hari aksi yang diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengatasi kemiskinan dan ketidakadilan yang dihadapi oleh jutaan janda dan tanggungan mereka di banyak negara," terang laporan laman Times Now News, Rabu (26/6/2021).

Baca juga: Pilih Mana Menikah dengan Janda atau Gadis? 

Hari Janda Internasional. (Foto: Shutterstock)

Lantas, bagaimana sejarah lahirnya Hari Janda Internasional?

Hari Janda Internasional didirikan oleh The Loomba Foundation untuk meningkatkan kesadaran tentang masalah janda. Tanggal 23 Juni dipilih karena pada hari itu di tahun 1954, Shrimati Pushpa Wati Loomba, ibu dari Lord Loomba, menjadi janda.

Hari Janda Internasional pertama dirayakan pada 2005 dan diluncurkan oleh Lord Loomba dan Cherie Blair, presiden yayasan tersebut. Hari itu secara resmi diadopsi sebagai Hari Janda Internasional oleh PBB.

Setelah peringatan keenam Hari Janda Internasional, acara diadakan di negara lain seperti Sri Lanka, Amerika Serikat, Inggris, Nepal, Suriah, Kenya, India, dan Bangladesh.

Baca juga: Desa Ini Dipenuhi 3.000 Janda, Suami Mereka Tewas Diterkam Harimau 

Apa makna di balik Hari Janda Internasional?

Hari Janda Internasional diharapkan dapat memberikan kesempatan para janda beraksi guna mencapai hak dan pengakuan penuh mereka secara sosial. Demikian dijelaskan PBB.

Peringatan ini juga berbicara tentang memberikan para janda informasi tentang akses yang adil dalam urusan warisan, tanah, dan sumber daya produktif mereka; pensiun dan perlindungan sosial yang tidak didasarkan pada status perkawinan saja; serta pekerjaan yang layak dan upah yang sama.

Baca juga: Miris, Janda Penghasilan Rp15 Ribu Biayai 2 Anak dan Ibunya yang Buta 

"Memberdayakan para janda untuk menghidupi diri mereka sendiri dan keluarga mereka juga berarti mengatasi stigma sosial yang menciptakan pengucilan dan praktik diskriminatif atau berbahaya pada kelompok janda," sebut laman tersebut.

Sekadar diketahui, ada 258 juta janda di seluruh dunia dan hampir 1 dari 10 hidup dalam kemiskinan ekstrem. Di wilayah timur Republik Demokratik Kongo, misalnya, dilaporkan sekira 50 persen perempuan adalah janda.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini