Satgas IDI Soroti Lemahnya PPKM Mikro

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 24 Juni 2021 17:09 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 24 481 2430411 satgas-idi-soroti-lemahnya-ppkm-mikro-Zg4X8Fan0Z.jpg Pandemi Covid-19 (Foto: Chilliwack)

GUNA menekan kasus positif Covid-19 di Indonesia yang tengah melonjak, maka diberlakukan PPKM MIkro yang diperketat. Kebijakan ini dinilai pemerintah cukup ampuh melandaikan kurva kasus.

PPKM Mikro yang diperketat ini merupakan arahan Presiden Jokowi yang terbit di hari ulang tahunnya, 21 Juni 2021. Penebalan PPKM Mikro diberlakukan pada 22 Juni hingga 5 Juli 2021.

 PPKM dinilai lemah

"Dua minggu ke depan. Bahwa beberapa penguatan PPKM mikro nanti akan dituangkan dalam instruksi Mendagri," kata Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, beberapa hari lalu.

Untuk kegiatan perkantoran, pemerintah menetapkan bahwa untuk di zona merah yang bekerja dari rumah atau work from home (WFH) persentasenya 75%. Sementara yang bekerja dari kantor atau work from office (WFO) sebesar 25%.

Lalu, penggunaan transportasi publik pun dibatasi. Lebih lanjut, mal maupun area umum tertutup lainnya pun jumlah pengunjung dibatasi, termasuk juga acara pernikahan yang mana pemerintah melarang adanya makan di lokasi acara.

Sementara itu, Ketua Satgas PB IDI Prof Zubairi Djoerban menilai PPKM Mikro yang katanya ketat itu belum terimplementasikan dengan baik di lapangan. Ada dua kejadian yang dia temukan langsung dan ini menjadi catatan besar pemerintah agar lebih disiplin memberlakukan kebijakan.

"Di lapangan, masih banyak terjadi kelonggaran PPKM Mikro yang sudah diperketat dan ini harus ditindaklanjuti serius supaya harapan pemerintah menekan kasus Covid-19 benar-benar terwujud," katanya di Instagram Live Okezone Stories, Kamis (24/6/2021).

Ada dua catatan Prof Beri, sapaan akrabnya, pertama adalah penumpukan pengunjung KRL dan yang kedua masih banyak pihak kantor yang mengharuskan karyawannya bekerja tidak sesuai arahan pemerintah.

"Banyak pasien saya yang bercerita kalau mereka masih tetap bekerja di situasi seperti ini 4 hari dalam seminggu dari pukul 8.30 hingga 17.00, padahal aturan pemerintah jelas kalau kantor harus berlakukan WFH untuk karyawannya sebanyak 75 persen," terangnya.

Lalu, Prof Beri menjelaskan kalau supirnya memberi bukti padanya suatu foto yang menggambarkan situasi di dalam kereta yang penuh sesak dari Jakarta ke Depok.

"Memang saat mau masuk stasiun, semua dicek suhu dan diminta menjaga jarak, tapi saat sudah di dalam kereta, tidak ada petugas yang memberi tahu kalau jumlah orang di dalam kereta penuh. Ya, artinya, masih bebas dan PPKM Mikro itu kendor sekali," tegas Prof Beri.

Ia mengimbau masyarakat agar di saat seperti sekarang, jauh lebih bijak untuk tetap berada di rumah saja. Pesan ini bahkan sampai dia ulang tiga kali sebagai pengingat betapa pentingnya mengurangi mobilitas.

"Kalau memang darurat pergi keluar rumah, harus terapkan 5M dengan baik. Pakai itu masker dengan benar, jangan cuma nutupin mulut, hidungnya terbuka bebas. Lalu, pastikan masker yang dipakai berkualitas. Kemudian, rajin cuci tangan, dan perkuat tubuh dengan asupan makanan yang bergizi dan olahraga sempetin, ya," saran Prof Beri.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini