Rendahnya Terapi Pencegahan Tuberkolusis Sebabkan Pasien Sulit Sembuh

Antara, Jurnalis · Kamis 24 Juni 2021 08:47 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 24 612 2430091 rendahnya-terapi-pencegahan-tuberkolusis-sebabkan-pasien-sulit-sembuh-OzRuADn8Vl.jpeg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

INDONESIA masih mencatat jumlah pasien TBC yang tinggi, sehingga masuk dalam delapan negara di dunia yang menyumbang dua pertiga kasus TBC global. Indonesia ada di posisi kedua setelah India dengan estimasi kasus 845.000 dengan kematian 98.000 per tahun. 

Dari jumlah tersebut, diperkirakan ada 349.549 yang kasus TBC yang ternotifikasi, cakupan pengobatan mencapai 41,4 persen dengan tingkat kesuksesan pengobatan 84,4 persen.

Kepala Subdit Tuberkulosis Kementerian Kesehatan Imran Pambudi menegaskan pentingnya Terapi Pencegahan Tuberkolusis (TPT) untuk agar penyakit tersebut bisa dieliminasi di Indonesia.

"Concern kami, cakupan TPT kita rendah, tidak pernah bisa mencapai lebih dari 10 persen target. Kalau tidak diberikan TPT, eliminasi tuberkolusis tidak bisa tercapai meski kita sudah temukan dan obati semua pasien," kata Imran.

Tbc

Terapi pencegahan Tuberkolusis merupakan salah satu cara untuk mengeliminasi TBC di Indonesia, dan diimplementasikan kepada populasi berisiko, yakni anak usia di bawah 5 tahun yang kontak satu rumah dengan pasien TBC paru aktif serta Orang Dengan HIV/AIDS. Pada 2024, pemerintah punya target memberikan 1,1 juta Terapi Pencegahan Tuberkolusis.

Secara global, estimasi kasus TBC sebanyak 9.960.000 kasus, penderita didominasi laki-laki yakni 6.170.000. Diperkirakan ada 8.060 kasus TBC Resisten Obat (TBC RO), kondisi di mana kuman Mycobacterium tuberculosis telah mengalami kekebalan terhadap Obat Anti TB (OAT).

Imran menjelaskan jumlah kasus TB ada di 34 provinsi Indonesia, dengan jumlah terbesar tahun lalu di Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta dan Sumatera Utara. Penyakit ini banyak ditemui pada kelompok usia produktif.

Pada 2024, pemerintah punya target untuk menurunkan insidensi TBC menjadi 190 per 100.000 penduduk, menurunkan kematian akibat TBC jadi 27 per 100.000 penduduk.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini