Belajar dari Kasus Shandy Aulia, Benarkah Rambut Jagung Pertanda Anak Kurang Gizi

Antara, Jurnalis · Minggu 27 Juni 2021 07:31 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 26 612 2431392 belajar-dari-kasus-shandy-aulia-benarkah-rambut-jagung-pertanda-anak-kurang-gizi-ki7VASqSjK.jpeg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

SHANDY Aulia berencana untuk mencari Netizen yang terus menerus menghina putrinya di unggahan akun Instagramnya. Netizen tersebut, menyebut pola asuh Shandy Aulia salah dan menyebabkan anaknya kurang gizi.

Pasalnya, si anak Claire Herbowo yang masih balita memiliki rambut berwarna jagung. Lantas apakah benar rambut jagung adalah indikator anak kurang gizi?

Ahli gizi Dr. dr Tan Shot Yen, M.Hum menjelaskan syarat balita yang tumbuh dan berkembang dengan baik adalah balita yang pertumbuhannya senantiasa mengalami kenaikan.

"Bisa dilihat dari grafik tumbuh kembangnya kan. Makanya setiap bulan anak itu harus ditimbang, diukur tingginya dan lingkar kepalanya," kata dr Tan.

Balita yang sehat pertumbuhannya harus memiliki tren yang naik dan sesuai target. "Kalau stagnan atau terjun bebas bahaya," tuturnya.

Senada dengan dokter Tan, dokter spesialis anak lulusan Universitas Negeri Sebelas Maret dr Noor Anggrainy Retnowati mengatakan meski tumbuh kembang balita berbeda-beda namun tetap harus diperhatikan setiap bulannya. "Harus rutin setiap bulan diukur berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, lingkar lengan setidaknya sampai usia dua tahun," kata dr Noor.

Shandy Aulia

Dia mengatakan jika pertumbuhan balita tidak mengalami kenaikan maka harus segera diperbaiki. "Kalau tidak optimal harus segera digali itu kenapa," katanya.

"Utamanya usia nol bulan sejak kita tahu kita hamil sampai dia usia dua tahun adalah golden period di mana otak manusia sudah berkembang hingga 80 persen yang mana ujung-ujungnya akan memengaruhi gizi dan tinggi badan anak ke depan," katanya.

Jika memang balita kurang gizi maka harus ditelusuri, untuk bayi lahir hingga usia 6 bulan apakah cara menyusuinya sudah benar, adakah penyakit penyerta bawaan, kalau usia lebih dari enam bulan apakah cara memberi MPASI sudah benar.

"Kita lihat pemberian makanan sesuai dengan feeding rules tidak apakah waktu tepat, tekstur tepat, apakah isinya sudah adekuat, apakah frekuensi sesuai waktu kah?" Katanya.

Anak dengan kurang gizi akan mempengaruhi keaktifannya dalam sehari-hari dan sangat dapat mempengaruhi perkembanganya kemudian hari. "Anak kurang gizi bisa dilihat anak jadi lemah, kurang ceria dan tidak aktif," katanya.

Sementara itu, terkait perkembangan bahasa, anak balita usia 12 sampai 18 bulan hendaknya sudah bisa mengucapkan tiga sampai enam kata dengan arti, dapat mengangguk atau menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan, menunjuk anggota tubuh atau gambar yang disebutkan orang lain dan dapat mengikuti perintah satu langkah. 

"Misal, tolong ambilkan mainan, anak dapat mengambil dan memberikan."

Pada usia 18 bulan, kosa kata mencapai 5-50 kata dan anak sudah dapat menyatakan sebagian besar keinginan dengan kata-kata. Anak balita kurang gizi memang terkadang bisa dilihat dari ciri rambut yang tipis dan sewarna jagung, namun dr Noor mengingatkan bahwa rambut memiliki kaitan dengan genetik.

"Kalau di keluarganya ada yang berambut pirang dan tipis ya bisa saja pirang dan tipis.

Dalam mendiagnosa status gizi harus secara komprehensif dari monitor kurva pertumbuhan, pemeriksaan fisik hingga bila diperlukan pemeriksaan penunjang lainnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini