Studi Ungkap Pentingnya Menjaga Asupan Gizi Sejak Dini

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Senin 28 Juni 2021 15:27 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 28 481 2432088 studi-ungkap-pentingnya-menjaga-asupan-gizi-sejak-dini-D6BzBuOmwA.jpg Makan bergizi (Foto: Eating well)

RISET Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, menyebut prevalensi gizi buruk dan gizi kurang pada anak balita di Indonesia mencapai 17,7 persen, sedangkan stunting mencapai 30,8 persen. Selain itu obesitas juga menunjukkan peningkatan, di angka 6,7 persen pada 2013 menjadi 8 persen pada 2018.

Faktor tersebut menjadi landasan studi lapangan South-East Asia Nutrition Survey (SEANUTS) yang telah berjalan di 21 Kabupaten/Kota pada 15 Provinsi di Indonesia. Studi ini melibatkan sekira 25 personil dari kalangan dokter, ahli gizi, kesehatan masyarakat dan bidang olahraga.

 makan makanan bergizi sejak dini

Sekadar informasi SEANUTS merupakan studi mengenai gizi dan kesehatan yang dilakukan di empat negara di Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam).

Studi ini diharapkan dapat menjadi sebuah acuan para pemangku kepentingan dalam mengambil kebijakan untuk mengentaskan kasus malnutrisi di Indonesia. Mengingat anak-anak merupakan cikal bakal generasi penerus bangsa yang harus dijaga.

Bekerjasama dengan lembaga penelitian dan universitas di Indonesia, SEANUTS melibatkan sekira 3 ribu anak di seluruh Indonesia dengan rentang usia 6 bulan-12 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status gizi anak dengan menilai asupan makanan, antropometri, aktivitas fisik, dan parameter biokimia.

Peneliti Utama SEANUTS, Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A (K) mengungkapkan betapa pentingnya edukasi gizi kepada masarakat dalam upaya menekan kasus malnutrisi pada anak. Kondisi ini sangat penting dalam rangka mencetak generasi penerus bangsa yang sehat dan berdampak pada peningkatan produktivitas dan kualitas sumber daya manusia di kemudian hari.

“Definisi anak kan sejak dari dalam kandungan. Status gizi kurang pada ibu dan asupan makanan rendah gizi dapat berdampak pada saat proses kehamilan. Kondisi ini bisa menyebabkan bayi lahir dengan berat badan lahir rendah, prematur, dan meningkatkan risiko anak mengalami gizi kurang, gizi buruk, atau pun stunting,” kata Prof Rini, berdasarkan siaran pers, Senin (28/6/2021).

Prof Rini menambahkan anak yang terlahir dengan gizi kurang akan tumbuh menjadi remaja dengan status gizi kurang dan berpotensi kembali melahirkan anak dengan kondisi gizi kurang. Mata rantai ini lah yang harus diputus dengan berbagai macam upaya pencegahan.

Fakta lainnya menyebut bahwa remaja saat ini cenderung menyukai makanan cepat saji, karena harganya yang terjangkau dan praktis. Meski demikian, konsumsi makanan yang baik, seharusnya juga turut mempertimbangan keseimbangan nutrisinya.

“Ini terjadi tak hanya di perkotaan, tetapi juga pedesaan. Akar masalahnya adalah masih minimnya pengetahuan tentang pedoman gizi seimbang,” tambahnya.

Di saat bersamaan, Prof Rini menyebutkan pentingnya asupan beragam sumber gizi, termasuk di dalamnya protein hewani seperti daging, ikan, ayam, telur dan susu dengan kandungan asam amino esensial. Kandungan tersebut bermanfaat untuk membantu mengoptimalkan tumbuh kembang anak, termasuk saat masih pada fase di dalam kandungan.

Sayangnya Asam amino esensial tidak dapat diproduksi oleh tubuh, dan harus didapatkan dari makanan yang mengandung protein.

“Protein sangat penting untuk mengganti sel-sel tubuh anak yang rusak, jadi anak harus menerima asupan protein itu minimal tiga kali sehari berikut dengan makanan pokok. Kualitas protein hewani juga lebih baik dan lebih mudah diserap oleh tubuh,” tuntas Prof. Rini.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini