AstraZeneca Klaim Vaksinnya Beri Kekebalan Minimal Setahun

Pradita Ananda, Jurnalis · Kamis 01 Juli 2021 08:26 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 01 481 2433599 astrazeneca-klaim-vaksinnya-beri-kekebalan-minimal-setahun-3JJRQjgZRH.jpg Vaksin Covid-19 (Foto: Unsplash)

VAKSINASI nasional sedang digenjot Pemerintah Indonesia. Saat ini diketahui menggunakan dua jenis vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca dan Sinovac.

Berbeda dengan Sinovac, sebagian masyarakat awam masih ragu atau pun takut dengan efek samping dari vaksin AstraZeneca. Mengingat di beberapa negara di dunia, terjadi kasus langka pembekuan darah pasca vaksinasi menggunakan vaksin AstraZeneca.

 Divaksin Covid-19

Terlepas dari polemik perihal efek samping, pihak AstraZeneca sendiri diketahui baru saja menyiarkan kabar gembira terkait durasi perlindungan yang diberikan vaksin Covid-19 buatannya tersebut.

Dalam siaran pers kemarin, disebutkan bahwa vaksin AstraZeneca, pasca suntikan dosis yang pertama sudah mampu memberikan kekebalan selama satu tahun.

Klaim ini didapatkan melihat hasil sub-analisis dari percobaan COV001 dan COV002 yang dipimpin oleh University of Oxford. Berdasarkan hasil yang diterbitkan oleh University of Oxford di server pre-print The Lancet, level antibodi tetap tinggi dibandingkan sebelumnya, selama satu tahun setelah dosis pertama disuntikkan.

Analisis ini digelar dengan mengikusertakan sukarelawan berusia 18 hingga 55 tahun yang terdaftar dalam uji coba COV001 dan COV002 dan telah menerima satu dosis atau dua dosis vaksin Covid-19 AstraZeneca.

Vaksin Covid-19 AstraZeneca disebutkan memberikan respons imun yang kuat setelah interval dosis kedua yang diperpanjang hingga 45 minggu atau setelah dosis penguat (booster) ketiga.

Interval yang diperpanjang antara dosis pertama dan kedua vaksin Covid-19 AstraZeneca hingga 45 pekan, disebutkan bisa menghasilkan peningkatan respons antibodi hingga 18 kali lipat diukur 28 hari setelah dosis kedua.

Dengan interval pemberian dosis 45 pekan antara suntikan dosis yang pertama dengan yang kedua, titer antibodi 4 kali lebih tinggi dibandingkan dengan yang jarak atau intervalnya hanya 12 pekan. Hal ini menunjukkan bahwa interval pemberian dosis yang lebih lama tidak mengurangi efektivitas vaksin, tapi justru dapat memberikan kekebalan yang lebih kuat.

Disebutkan lebih lanjut, dosis ketiga vaksin AstraZeneca yang diberikan setidaknya 6 bulan setelah dosis kedua, meningkatkan tingkat antibodi 6 kali lipat dan mempertahankan respons sel T. Dosis ketiga juga menghasilkan aktivitas penetralan yang lebih tinggi terhadap varian Alpha (B.1.1.1.7, 'Kent'), Beta (B.1.351, 'Afrika Selatan') dan Delta (B.1.617.2, 'India') yang saat ini tengah marak menyebar ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

Terkait hasil sub-analisis di atas, Profesor Sir Andrew J Pollard, Chief Investigator & Director Oxford Vaccine Group di Universitas Oxford mengatakan, temuan ini bisa jadi secercah cahaya terutama bagi negara yang stok vaksinnya terbatas.

“Hal ini merupakan berita baik bagi negara-negara dengan persediaan vaksin yang terbatas, yang mungkin cemas soal keterlambatan pemberian dosis kedua vaksin di negara mereka. Terdapat respons yang sangat baik untuk dosis kedua, bahkan setelah penundaan 10 bulan dari dosis pertama,” ungkap Profesor Andrew.

Sebagai informasi, vaksin AstraZeneca diketahui sudah mendapatkan izin pemasaran bersyarat atau penggunaan darurat di lebih dari 80 negara di enam benua, dengan sistem penggunaan dua dosis. Diberikan terpisah dengan jarak suntik, 4 sampai 12 pekan pada orang dewasa berusia 18 tahun ke atas.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini