Anak Alami Tekanan Mental saat Belajar Daring, Ini Saran Psikolog

Dyah Ratna Meta Novia, Jurnalis · Jum'at 02 Juli 2021 11:18 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 02 612 2434336 anak-alami-tekanan-mental-saat-belajar-daring-ini-saran-psikolog-x73V6Me7rt.jpg Anak tertekan (Foto: Freepik)

PANDEMI Covid-19 ini memang luar biasa, bahkan sampai mengubah tata cara hidup umat manusia. Termasuk cara anak bersekolah, di mana mereka harus belajar daring dari rumah.

Di tengah pandemi, anak-anak harus sekolah daring karena sekolah tatap muka masih berisiko terkena penularan Covid-19. Namun di sisi lain, banyak orangtua murid yang mengkhawatirkan kondisi mental anaknya karena banyak beraktivitas di rumah saja.

 anak tertekan

Psikolog Klinis dari Siloam Hospitals Balikpapan, Patria Rahmawaty,S.Psi,M.MPd,Psi menjelaskan, orangtua sejatinya tak perlu khawatir selama orang tua menerapkan pengasuhan atau pendekatan yang tepat pada anak, maka permasalahan-permasalahan psikologis yang terjadi pada anak dapat diatasi dengan baik.

"Apalagi anak-anak memang sudah lebih dari setahun melakukan pembelajaran jarak jauh secara daring, dengan mengandalkan sambungan internet," ujar Rahma, Jumat, (2/7/2021).

Menurut Rahma, pada tahap ini anak cenderung bersikap egosentris hingga ada kecenderungan untuk membandingkan dirinya dengan orang lain seperti saat ia melihat temannya melakukan sesuatu yang tidak dilakukan maka akan muncul perasaan rendah diri. Oleh karena itu anak diajak untuk peka pada keadaan sekitarnya salah satunya saat nanti mulai pemebelajaran tatap muka anak harus dapat bersikap beradaptasi dengan situasi yang ada saat ini seperti taat prokes, menjaga kesehatan, dan tetap fokus untuk belajar. Anak diajak untuk dapat bersikap mandiri saat disekolah.

Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan di JAMA Pediatrics Journal dan dilakukan di Hubei China serta melibatkan 2.330 anak sekolah yang membuktikan bahwa anak-anak usia sekolah yang mengalami karantina proses belajar akibat Covid-19 menunjukkan beberapa tanda-tanda tekanan emosional.

"Karena selama ini biasanya dilayani dirumah, jadi pada saat sekolah maunya dilayani juga, kemudian merasa dirinya lebih dibandingkan anak lain," papar Rahma.

Bahkan, penelitian lanjutan dari observasi tersebut menunjukkan 22,6% dari anak-anak yang di observasi mengalami gejala depresi dan 18,9% mengalami kecemasan. Hasil survei yang dilakukan oleh pemerintah Jepang juga menunjukkan hasil yang serupa, yaitu 72% anak-anak Jepang merasakan stres akibat Covid-19.

Hal serupa juga terjadi di Amerika Serikat, investigasi yang dilakukan oleh Centre for Disease Control (CDC) menunjukkan 7,1% anak-anak dalam kelompok usia 3 sampai 17 tahun telah didiagnosis dengan kecemasan, dan sekitar 3,2% pada kelompok usia yang sama menderita depresi.

Di Indonesia, terang Rahma, implementasi kebijakan pembatasan kegiatan pembelajaran di sekolah ini tentunya berdampak signifikan pada kesehatan mental siswa meskipun dengan derajat yang bervariasi. Data yang diperoleh dari survei penilaian cepat yang dilakukan oleh Satgas Penanganan Covid-19 (BNPB,2020) menunjukkan bahwa 47% anak Indonesia merasa bosan dirumah, 35% merasa khawatir ketinggalan pelajaran, 15% anak merasa tidak aman, 20% anak merindukan teman-temannya dan 10% anak merasa khawatir tentang kondisi ekonomi keluarga.

Untuk itu Rahma menyarankan sebaiknya dua minggu sebelum kegiatan pembelajaran tatap muka dilaksanakan, maka biasakan anak mulai dengan bangun pagi setiap hari dan tidur malam tidak lewat dari jam 9. Biasakan anak-anak mengerjakan tugas sendiri, mempersiapkan dan membereskan barang dan alat untuk belajar.

"Karena yang sering terjadi sekarang anak terbiasa dengan tidur hingga larut malam dan sering berinteraksi dengan gadget atau bermain games untuk mengusir kejenuhan mereka," ujar Rahma.

"Sampaikan kepada anak untuk bersikap peka dan peduli dengan orang disekitarnya, koordinasi dan komunikasikan yang baik bersama pihak sekolah, jangan percaya berita hoaks, sebaiknya cari informasi berita dari sumber yang dipercaya," pungkasnya.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini