Banyak yang Tak Sadar, Terapi Kanker Payudara Indonesia Tak Kalah dengan Negara Lain

Antara, Jurnalis · Jum'at 02 Juli 2021 19:32 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 02 612 2434648 banyak-yang-tak-sadar-terapi-kanker-payudara-indonesia-tak-kalah-dengan-negara-lain-8rWZFB0OXE.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

PANDEMI Covid-19 memang memaksa kita untuk lebih waspada terhadap kesehatan, terutama di tempat umum. Masyarakat pun mulai rajin menggunakan masker dan mencuci tangan, guna menghindari virus ini.

Memang, Covid-19 adalah penyakit berbahaya yang belum memiliki obat. Tapi, jangan lupa ada juga penyakit berbahaya lainnya yang tidak kalah ganas, yakni kanker. Apalagi, saat ini tingkat literasi kanker belum tinggi, salah satunya soal kanker payudara.

Kanker payudara tahap lanjut masih menjadi persoalan kesehatan global yang membutuhkan perhatian dari seluruh masyarakat dan pengambil kebijakan. Mengacu data Globocan, tahun 2020 terdapat 44,2 per 100.000 kasus baru per tahun. Di Indonesia, dari 260 juta penduduk Indonesia, ada sekitar 65.800 kasus kanker payudara.

Data Perhimpuan Ahli Bedah Onkologi Indonesia (PERABOI) menemukan, dari 10.000 kasus kanker payudara, sekitar 70 persen adalah stadium 3 dan 4. Untuk menekan kejadian kanker payudara tahap lanjut, dibutuhkan sebuah kebijakan nasional mulai dari pencegahan, deteksi dini, hingga tatalaksana yang baik dan berkelanjutan.

Sayangnya, belum semua negara, terutama di negara miskin dan berkembang, memiliki semua kebijakan ini. Kerjasama antar negara diharapkan bisa menjadi ajang berbagi pengalaman, bagaimana menangani kanker payudara secara komprehensif dan menyeluruh.

Kanker Payudara

"Masalah yang dihadapi hampir semua komunitas kanker payudara di negara ASEAN, sebenarnya hampir sama. Misalnya pemahaman tentang penyakit kanker yang minim, kesadaran deteksi dini yang rendah, menunda terapi, akses ke fasilitas kesehatan yang terbatas," kata Linda Agum Gumelar, S.IP, Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI)

"Kebijakan pemerintah juga masih harus terus ditingkatkan dalam penanganan pasien kanker," tambahnya.

Menurut Linda, meskipun persoalan yang dihadapi sama, namun terkadang penyelesaiannya berbeda. Oleh karena itu, kita bisa banyak belajar dari berbagai komunitas di negara lain. "Di Filipina misalnya, komunitas kanker payudara di sana berhasil memasukkan persetujuan dari parlemen bahwa pelayanan kanker payudara menjadi prioritas pemerintah," kata Linda.

Sebaliknya, komunitas di negara lain pun banyak belajar dari Indonesia. Misalnya, mereka belajar dari YKPI bagaimana memanfaatkan organisasi perempuan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia yaitu BKOW (Badan Kerjasama Organisasi Wanita) tingkat provinsi.

Kemudian tingkat kabupaten/kota ada Gabungan Organisasi Wanita (GOW). Melalui merekalah antara lain, YKPI melakukan sosialisasi atau edukasi tentang pentingnya skrining dan deteksi dini kanker payudara.

Selain itu, mobil mamografi milik YKPI sebagai sarana deteksi dini, adalah satu-satunya atau pertama di ASEAN yang menjadi contoh dan banyak diikuti negara lain.

Setelah kasus kanker ditemukan, penanganan selanjutnya menjadi tantangan besar. Menurut Ketua PERABOI, dr. Walta Gautama, Sp.B (K) Onk, ketika pasien merasa ada benjolan, untuk berani datang ke fasilitas kesehatan butuh waktu 1-3 bulan.

"Sampai ditangani dengan benar butuh waktu 9-15 bulan. Jadi walau kita menekankan pentingnya deteksi dini, kalau penatalaksanaan tidak diperbaiki maka hasilnya akan sama saja. Sebab penanganan kanker harus benar dari awal sampai akhir," kata dr. Walta.

Hal inilah yang menyebabkan selama 35 tahun terakhir, belum ada kemajuan yang signifikan dalam upaya menekan kejadian kanker payudara stadium 3 dan 4 di tanah air.

"Masalahnya masih sama, yaitu belum ada regulasi standar untuk alur rujukan kasus terduga kanker payudara dari fasilitas kesehatan primer, sekunder dan tersier. Padahal untuk kemajuan terapi kanker payudara, Indonesia tidak kalah bahkan unggul dibandingkan negara lain," ujar dr. Walta.

Berdasarkan fakta-fakta tersebut YKPI ingin lebih merangkul banyak pihak dalam meningkatkan kepedulian terhadap kanker payudara tahap lanjut.

Salah satu bentuk kerjasama antarnegara di bidang kanker payudara adalah forum The Southeast Asia Breast Cancer Symposium (SEABCS). Tahun ini, SEABCS kelima akan diselenggarakan di Indonesia, di mana Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) ditunjuk sebagai penyelenggara.

SEABCS adalah sebuah forum global berkumpulnya para tenaga medis profesional di bidang kanker payudara, komunitas-komunitas kanker payudara, pasien, penyintas, bidan, tenaga kesehatan, dan wakil pemerintah.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini