Ayah Bunda, Ini Pentingnya Jadi Orangtua yang Pandai Mengelola Emosi

Wilda Fajriah, Jurnalis · Sabtu 03 Juli 2021 04:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 02 612 2434750 ayah-bunda-ini-pentingnya-jadi-orangtua-yang-pandai-mengelola-emosi-1kiyB8B9G4.jpg Ilustrasi orangtua pandai mengelola emosi. (Foto: Pressfoto/Freepik)

PANDEMI covid-19 telah membuat tekanan hidup menjadi lebih tinggi, terutama kepada para orangtua. Bagaimana tidak, ekonomi yang anjlok mungkin membuat sebagian orangtua mudah emosi karena kehilangan pekerjaan dan kesulitan mendapat penghasilan dengan jalan lain.

Selain itu, rencana sekolah yang akan kembali melakukan kegiatan pembelajaran tatap muka pun kembali ditunda akibat kasus covid-19 yang terus melonjak. Akibatnya, para orangtua harus kembali mendampingi anak-anak belajar setiap hari.

Baca juga: 3 Cara Atasi Amarah Paling Aman 

Hal ini tentunya menyisakan tekanan bagi para orangtua sehingga mudah stres. Terlebih lagi bagi pasangan yang sering berselisih, ujung-ujungnya, sang anaklah yang menjadi sasaran omelan para ibu dan ayah.

Ilustrasi kebersamaan anak dengan orangtua. (Foto: Freepik)

Menemani anak belajar daring bukanlah tugas mudah bagi orangtua, karena mereka tidak memiliki keahlian untuk mengajar layaknya guru di sekolah. Belum lagi ketika anak sulit diatur, duh tambah stres banget nih pasti ayah dan bunda.

Baca juga: Awas, Lapar Bisa Bikin Gampang Marah 

Karena itu, psikolog Ifa Hanifah Misbach mengajak para orangtua bisa pandai mengelola emosi. Menurut data yang dikumpulkannya, ada delapan poin yang sering dikeluhkan para ibu. lalu yang terbanyak adalah anak lebih suka main daripada mengerjakan tugas.

"Ini sudah masuk fase penerimaan bahwa dunia pendidikan kita sudah tidak sama lagi. Ini sudah bukan fase denial (terutama bagi mereka yang enggak percaya covid-19). Karenanya stresnya bisa dikelola," ujar Ifa dalam webinar 'Anak Sehat dan Bahagia Meski #DiRumahAja', Jumat 2 Juli 2021.

Adapun penyebab orangtua menjadi lebih emosi ketika membimbing anak saat belajar daring adalah karena menaruh harapan agar buah hatinya langsung mau belajar ketika diminta, langsung paham saat dijelaskan, bisa mengerjakan soal, serta tidak banyak menawar atau menunda tugas.

Padahal, realitanya tidak seperti itu. Anak lebih suka menunda mengerjakan tugas, harus dinasihati terlebih dahulu baru mau menyelesaikan tugas, mudah bosan, serta hasil pekerjaan rumahnya yang ternyata tidak sesuai ekspetasi.

Baca juga: Emosi Jangan Sampai Menyakiti Diri Sendiri, Ini Cara Mengatasinya 

"Jika sudah demikian, maka orangtua pun akan memberikan reaksi emosi negatif seperti marah, jengkel, ngomel, memaki, berteriak, menyalahkan, atau bahkan mendiamkan anak," tutur Ifa.

Ia mengatakan, ketika anak selalu membangkang, perlu diperhatikan juga apakah orangtua sudah berhasil membangun ikatan emosional dengan sang anak? Apakah anak sudah nyaman secara emosional untuk berinteraksi dengan orangtua?

"Karenanya bonding (kebersamaan) itu sangat diperlukan. Bermainlah bersama anak, tetapi bukan orangtua duduk bersama dengan anak kemudian orangtuanya sibuk main handphone dan anaknya main masak-masakan ya. Itu sih namanya sibuk sendiri-sendiri," tukasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini