Tips Menjaga Kesehatan Mental ala Psikolog Klinis di Tengah Pandemi

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 09 Juli 2021 13:37 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 09 612 2438115 tips-menjaga-kesehatan-mental-ala-psikolog-klinis-di-tengah-pandemi-RlGbOvxzOV.jpg Stres di tengah pandemi (Foto: Unsplash)

JUMLAH kasus positif Covid-19 terus menanjak tinggi. Per Kamis, 8 Juli 2021, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat ada 38.391 kasus baru dalam sehari sehingga total kasusnya sekarang 2.417.788 kasus.

Kenaikan angka kasus ini membuat masyarakat khawatir. Rasa cemas dan takut semakin diperparah dengan informasi yang beredar di media sosial, memperlihatkan foto atau video pasien Covid-19 kesulitan mencari rumah sakit ataupun tabung oksigen,

merasa stres dan cemas 

Belum berhenti di situ, suara sirine ambulans terdengar terus meraung-raung sepanjang hari. Kondisi cemas.

Psikolog Klinis Meity Arianty menjelaskan, kalau dirinya saat ini sudah menerapkan pembatasan sosial media. Menurutnya itu cara paling bijak dan mudah dilakukan di saat seperti sekarang untuk menjaga kesehatan mental.

"Aku enggak mau lihat, enggak pernah mau lihat. Kalau ada informasi mengenai lonjakan kasus, video penguburan jenazah, kolapsnya rumah sakit, aku enggak mau lihat langsung. Itu mengotori pikiranku," cerita Mei.

Saat pikiran sudah kotor, sambung Mei, maka akan mudah muncul kecemasan dan ketakutan dan kondisi negatif itu bakal mengontrol tubuh kita. Kalau sudah begitu, akan sulit untuk menyeimbangkan pikiran dan tubuh.

"Karena itu, aku saat ini sangat memfilter apa yang aku lihat, aku dengar, aku baca. Aku mengontrol mata, telinga, dan pikiranku," tambahnya.

Mei mengungkapkan bahwa banyak kliennya saat ini remaja yang mengeluhkan cemas berlebih dan salah satu penyebabnya adalah kabar kematian yang terus berdatangan setiap hari di media sosial ataupun di aplikasi chat.

"Kabar kematian membuat remaja banyak yang tremor karena cemas dan membuat ibu-ibu psikosomatis karena ketakutan," paparnya.

Lantas, apa yang bisa kita lakukan untuk mewaraskan mental di saat seperti sekarang selain memfilter informasi?

Mei menyarankan untuk melakukan olah napas dan fokus ke hidup kita yang jelas terlihat. "Kembalikan ke kesadaran saat ini," ungkapnya.

Salah satu teknik yang disarankan Mei untuk mengolah napas adalah dengan melakukan Buteyko. Ini adalah teknik pernapasan yang banyak dilakukan sebagai terapi untuk mengoptimalkan oksigen bagi orang yang mengalami masalah dengan kesehatan, termasuk kecemasan, ketakutan, dan panic attack.

Perlu diketahui terlebih dulu bahwa bernapas dengan benar itu menghirup udara lewat hidung dan menghembuskannya pun lewat hidung. Tapi, kata Mei, banyak dari kita tanpa sadar 'inhale' ataupun 'exhale' lewat mulut dan ini yang perlu diperbaiki.

"Saat Anda cemas, napas biasanya akan lebih cepat dan ini memengaruhi detak jantung. Itu kenapa banyak saran diberikan ketika cemas yang diatur pertama kali adalah napas dan posisi tubuh," kata Mei.

So, bagaimana Buteyko dilakukan?

Menurut laman Healthline, berikut penjelasannya:

1. Persiapan

- Duduk di lantai atau di kursi

- Perpanjang tulang belakang Anda untuk mempertahankan postur tubuh

- Rilekskan otot-otot pernapasan Anda

- Bernapaslah secara normal dalam beberapa menit

2. The Control Pause

- Setelah mengembuskan napas dengan santai, tahan napas Anda.

- Gunakan jari telunjuk dan ibu jari untuk menutup hidung.

- Pertahankan napas Anda sampai Anda merasakan dorongan untuk bernapas.

- Bernapas normal setidaknya 10 detik.

- Ulangi beberapa kali.

3. The Maximum Pause

- Setelah mengembuskan napas dengan santai, tahan napas.

- Gunakan jari telunjuk dan ibu jari untuk menutup hidung.

- Tahan napas selama mungkin, usahakan 2 kali lipat lebih lama dari biasanya.

- Setelah Anda sampai di titik ketidaknyamanan, tarik napas.

- Bernapas kembali secara normal setidaknya selama 10 detik.

- Ulangi beberapa kali.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini