Peneliti India Buktikan Vitamin D Tak Beri Kekebalan pada Covid-19

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Sabtu 10 Juli 2021 12:12 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 10 612 2438560 peneliti-india-buktikan-vitamin-d-tak-beri-kekebalan-pada-covid-19-qe1OR3fDl2.jpg Vitamin D. (Foto: Freepik)

SELAMA pandemi Covid-19 ini berjemur sinar matahari memang rutinitas harian yang kerap dilakukan orang, terutama mereka yang tengah melakukan isolasi mandiri. Cara ini dilakukan sebagai upaya untuk mendapatkan vitamin D.

Indonesia sebagai negara tropis, memang beruntung bisa mendapatkan paparan sinar matahari dalam waktu yang cukup lama. Tapi, beberapa negara di Eropa memang tidak memiliki paparan sinar matahari sebanyak Indonesia, sebagai contoh Inggris.

Ketua Satgas PB IDI Prof Zubairi Djoerban mengatakan, pada negara-negara dengan paparan matahari yang tidak sebanyak Indonesia, seperti Inggris, banyak kelompok individu yang mengalami masalah kekurangan vitamin D.

"Di Inggris, ketika menjelang musim dingin, warganya akan disarankan mengonsumsi vitamin D. Bahkan, khusus musim dingin kemarin, pemerintah Inggris memberikan suplemen vitamin D secara gratis untuk orang-orang yang berisiko terhadap Covid-19," ungkap Prof Beri.

Nah, terkait dengan pernyataan apakah vitamin D bisa mencegah seseorang terinfeksi Covid-19, Prof Beri menyatakan bahwa berdasar hasil studi ilmiah yang dilakukan Universitas Northwestern, ternyata benar ada hubungan antara kekurangan vitamin D dengan infeksi virus corona.

"Mereka juga menyatakan bahwa pasien dari negara-negara dengan tingkat kematian Covid-19 tinggi diketahui memiliki kadar vitamin D yang rendah. Tapi, para peneliti memberikan catatan terhadap hasil penelitiannya tersebut," kata Prof Beri.

Catatannya adalah para peneliti membutuhkan penelitian lebih lanjut mengenai hubungan antara tingkat infeksi virus dan vitamin D dari satu negara dengan negara lain. Mengapa ini diperlukan?

Menurut Prof Beri, sebab ada perbedaan kualitas perawatan kesehatan, tingkat tes, usia populasi, atau jenis virus corona yang tak sama di tiap negara. "Intinya belum cukup data untuk bisa bilang bahwa vitamin D dapat mencegah seseorang terinfeksi Covid-19," tegasnya.

Ia pun menyoroti informasi yang beredar di India bahwa studi yang dilakukan di negara tersebut membuktikan pemberian vitamin D mungkin sekali bermanfaat sebagai bagian dari pengobatan Covid-19. Namun, peneliti India juga bilang bahwa pemberian vitamin D sebelum diagnosis tidak memengaruhi hasil pengobatan terhadap pasien.

"Artinya, vitamin D yang dikonsumsi sebelum pasien terdiagnosis Covid-19 dibanding dengan pasien yang tidak mengonsumsi, ternyata sama saja hasilnya. Dus, penelitian juga memuat kalau dosis vitamin D itu kebanyakan, ditemukan yang namanya toksisitas sebagai efek samping," katanya.

Meskipun, pemberian tambahan vitamin D sebesar 10-25 mikrogram tiap hari bisa memproteksi pasien terhadap infeksi akut saluran napas "Tapi tetap belum cukup bukti untuk mencegah Covid-19," singkatnya.

"Dari itu semua, saya memandang bahwa belum ada cukup bukti yang menyatakan vitamin D mencegah seseorang terinfeksi Covid-19. Begitu juga untuk pengobatannya. Bahkan Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) tidak mengeluarkan izin untuk vitamin D sebagai bagian dari pengobatan Covid-19," terang Prof Beri.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini