Yuk Kenali Periode Sensitif Anak dan Cara Stimulasinya

Antara, Jurnalis · Senin 12 Juli 2021 10:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 12 612 2439223 yuk-kenali-periode-sensitif-anak-dan-cara-stimulasinya-DMpmbXjOGx.jpeg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

SEBAGAI orangtua, mengamati periode sensitif anak merupakan salah satu hal yang tidak boleh dilupakan. Pertumbuhan anak memang akan lebih cepat dan lebih baik jika mereka mendapatkan stimulasi tepat.

Psikolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Pritta Tyas Mangestuti mengatakan, periode sensitif pada anak akan berbeda-beda. Oleh karenanya, respons yang diberikan pun harus sesuai.

"Amati si kecil sedang suka apa (periode sensitifnya). Misalnya anak sedang suka mengoceh, mungkin dia periode sensitif bahasa, kenalkan lagu-lagu untuk mestimulasi kemampuan berbahasanya," kata dia.

Bila anak sedang aktif-aktifnya bergerak, bisa jadi dia berada dalam periode sensitif gerak. Orang tua bisa mengajak anak bermain semisal estafet bola dengan mengelompokkan warna, atau bermain petak umpet di dalam rumah.

Anak-anak

Periode sensitif anak juga bisa jadi sensorial. Cobalah amati si kecil, misalnya saat dia memegang cat air, sesuatu yang lengket, basah, apakah dia merasa senang. Bila ya, bisa jadi anak berada dalam periode sensitif sensorial.

Menurut Pritta, jenis stimulasi yang bisa diberikan misalnya memberikan pasir kinetik, mengecat dengan cat air, atau membuat kerajinan DIY.

Hand puppet dapat menjadi pilihan Anda untuk membantu menstimulasi keterampilan anak, khususnya kemampuan sosial. Sambil bermain, orang tua bisa memberikan kesempatan anak mengkreasikan ceritanya.

Alat ini juga bisa digunakan saat orang tua mengajarkan sesuatu pada anak misalnya cara menyikat gigi, makan dengan benar, toilet training.

"Ketika gunakan hand puppet, tips-nya tatap mata anak, usahakan posisi duduk sejajar dengan anak, bila perlu sambil lakukan sentuhan fisik. Beri kesempatan anak untuk bercerita. Selipkan pembelajaran sesuai pertumbuhan dan perkembangan anak," tutur Pritta.

Di sisi lain, orang tua juga dapat memanfaatkan hand puppet untuk melatih kemampuan anak berempati. Sambil menggunakan alat ini, cobalah saling berbagi perasaan atau melakukan pretend play (berpura-pura menjadi).

Orang tua perlu sering-sering mengkomunikasikan apa yang dirasakan pada anak dan memintanya melakukan sesuatu. Cara ini, menurut Pritta, bisa melatih anak memahami apa yang orang lain rasakan dan perlukan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini