Ini Cara Kenali Pneumonia pada Anak Melalui Teknik Hitung Napas

Antara, Jurnalis · Jum'at 16 Juli 2021 14:45 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 16 481 2441675 ini-cara-kenali-pneumonia-pada-anak-melalui-teknik-hitung-napas-MomkT6YNUU.jpg Ilustrasi mengenali penumonia pada anak. (Foto: Prostooleh/Freepik)

GANGGUAN kesehatan pneumonia atau radang paru-paru pada anak ternyata bisa dikenali. Salah satunya orangtua bisa menggunakan teknik menghitung frekuensi napas anak. Demikian diungkapkan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi.

"Bagaimana hitung napas menjadi penting, bagaimana ibu mengenali anaknya sesak, karena biasanya anak-anak tidak bisa mengeluh karena sesak. Paling dia rewel, sering menangis," kata Siti Nadia dalam webinar "Ayo Imunisasi, Stop Pneumonia", Kamis 15 Juli 2021, seperti dikutip dari Antara.

Baca juga: Mengenal Pneumonia, Penyakit yang Diderita Jane Shalimar Sebelum Wafat karena Covid-19 

Pneumonia terjadi akibat infeksi yang mengenai jaringan di saluran pernapasan bawah yaitu paru-paru. Di antara sejumlah gejalanya, napas cepat salah satunya.

Kriteria napas cepat pada anak usia kurang 2 bulan lebih dari 60 kali napas per menit, lalu pada usia 2–11 bulan lebih dari 50 kali per menit, usia 1–5 tahun sekira lebih dari 40 kali per menit, dan anak usia di atas 5 tahun lebih dari 30 kali per menit.

Ilustrasi anak-anak. (Foto: Freepic Diller/Freepik)

Selain hitung frekuensi napas, orangtua juga bisa memerhatikan ada tidaknya retraksi dinding atau penarikan dinding dada. Untuk memudahkan, gejala ini ditandai adanya cekungan ke dalam di bawah dada. Ini menjadi pertanda anak sesak.

Pengukuran saturasi oksigen menggunakan oximeter juga bisa dilakukan. Apabila angka pada alat menunjukkan di bawah 93 persen, maka kondisi pneumonia sudah masuk kategori berat.

Baca juga: Sebelum Meninggal, Jane Shalimar Alami Pneumonia hingga Saturasi Oksigen Menurun 

Pada anak yang masih menyusui, ketidakmampuan dia menyusu hingga penurunan kesadaran juga menjadi tanda pneumonia berat.

"Paling gampang, lihat kalau di bawah dada agak cekung ke dalam, itu tanda-tanda sesak. Kalau punya alat saturasi oksigen kita bisa gunakan," tutur Siti Nadia.

Pneumonia atau radang paru-paru hingga kini menjadi penyebab kematian anak di bawah usia 5 tahun di dunia. Pada 2015, sebanyak 1 dari 6 anak meninggal karena pneumonia.

Indonesia menjadi salah satu penyumbang 6 dari 10 kematian anak akibat pneumonia di 10 negara selain Nigeria, Kongo, Angola, Afganistan, Pakistan, dan China.

Baca juga: Rajin Cuci Tangan Langkah Ampuh Terhindar dari Pneumonia 

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 menunjukkan penyebab kematian bayi pada tahun 2007 salah satunya karena pneumonia (23,8 persen); sedangkan pada balita (15,5 persen).

Sementara itu data dari Sample Registration System (SRS) 2014 memperlihatkan sebanyak 23 balita meninggal setiap jam dan 4 di antaranya karena pneumonia.

"Insiden dari kejadian baru pneumonia menjadi perhatian kita mengapa perlu terus mencoba melakukan pencegahan dan pengendalian pneumonia terutama pada balita," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini