3 Jenis Nyeri Kepala dan Cara Menanganinya

Dyah Ratna Meta Novia, Jurnalis · Senin 19 Juli 2021 07:10 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 19 481 2442648 3-jenis-nyeri-kepala-dan-cara-menanganinya-C1VSIdQAqe.jpg Nyeri kepala (Foto: Insider)

NYERI kepala merupakan salah satu penyakit yang sering dialami banyak pekerja. Jika nyeri kepala sudah menyerang, maka saat bekerja menjadi tak fokus dan harus beristirahat.

Ternyata ada beberapa jenis nyeri kepala. Lalu apa sebabnya dan bagaimana mengatasinya?

nyeri kepala

Dokter Ahli Saraf Riezky Valentina Astari, Sp.S. dari Siloam Hospitals Jantung Diagram menjelaskan cara mengenali dan penanganan seputar nyeri di kepala.

Menurutnya, nyeri kepala adalah suatu rasa nyeri atau rasa tidak enak pada daerah kepala, termasuk daerah wajah dan tengkuk leher. Berdasarkan klasifikasi, nyeri kepala terbagi menjadi 3 jenis yaitu nyeri kepala primer seperti migrain, nyeri kepala tipe tegang, nyeri kepala tipe kluster.

Sedangkan nyeri kepala sekunder adalah nyeri kepala karena cedera kepala, infeksi, stroke, gangguan mata, telinga, hidung, sinus, gigi, mulut, konsumsi obat, makanan, substansi, gangguan psikiatri dan lainnya.

"Kemudian ada pula jenis nyeri kepala lainnya, yaitu yang tidak termasuk dari 2 kategori diatas," terang Dokter Riezky, Senin, (19/7/2021).

Berdasarkan gejala yang dirasakan, ujar Dokter Riezky, pada sakit kepala migrain yaitu satu sisi kepala dengan perasaan nyeri sedang sampai dengan nyeri berat, terasa berdenyut dan semakin nyeri jika disertai aktivitas.

Sehingga orang yang mengalami nyeri kepala migrain cenderung ingin beristirahat atau menutup mata dengan durasi yang berlangsung antara 4 jam sampai 72 jam.

"Penyerta akan merasakan gejala mual, muntah, fotofobia, fonofobia, aura. Sementara untuk nyeri kepala tipe tegang yaitu merasakan nyeri pada kedua sisi kepala dengan perasaan seperti ditindih beban berat, tingkat nyeri sedang namun tidak mengganggu aktivitas dengan durasi yang bervariasi," ujar Dokter Riezky.

Adapun untuk nyeri kepala kluster, yakni merasakan nyeri pada satu sisi kepala, umumnya di sekitar mata. Nyeri yang dirasakan terus menerus semakin berat hingga membuat pasien gelisah, durasi nyeri yang dirasakan sekitar 30 menit sampai 3 jam.

"Gejala yang dialami adalah mata merah, hidung berair, berkeringat, kelopak mata bengkak," tutur Dokter Riezky.

Guna menangani nyeri di kepala, dapat dilakukan pemeriksaan penunjang misalnya pemeriksaan laboratorium seperti darah rutin, elektrolit, glukosa darah, profil lipid dan lainnya. Pemeriksaan CT scan atau MRI kepala juga dapat dilakukan jika ada indikasi.

Menurut Dokter Riezky, pengobatan nyeri kepala dapat dibedakan menjadi terapi abortif, terapi preventif, dan terapi non obat. Terapi abortif bertujuan untuk mengobati episode nyeri kepala yang sedang dialami menggunakan obat-obatan jenis analgesik atau antimuntah.

Selanjutnya, terapi preventif dapat dilakukan untuk mengurangi frekuensi, berat, dan lama serangan nyeri kepala. Terapi preventif diharapkan dapat meningkatkan respons pasien terhadap pengobatan sehingga pada akhirnya dapat mengurangi biaya pengobatan pasien.

Terapi non obat yang dapat dilakukan pasien nyeri kepala yaitu menghindari atau mengelola faktor pencetus nyeri kepala misalnya perubahan pola tidur, makanan, stres, rutinitas, cuaca, lingkungan tempat tinggal, melakukan teknik relaksasi, menghindari merokok atau konsumsi alkohol, serta mempertahankan kualitas tidur yang baik.

"Pengobatan nyeri kepala bergantung dari karakteristik nyeri kepala yang dialami pasien dan faktor-faktor penyebabnya. Bila tidak ada gejala lain yang berbahaya, sakit kepala dapat diredakan dengan obat-obatan yang dijual bebas seperti paracetamol. Bila sakit kepala dirasa mengkhawatirkan, segeralah berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai," lanjut Dokter Riezky.

Sedangkan pencegahan sakit kepala akibat perilaku sehari-hari dapat dilakukan dengan menerapkan perilaku hidup yang sehat, misalnya beristirahat dengan cukup dan rutin berolahraga.

Sedangkan untuk nyeri kepala sekunder akibat penyakit lain yang mendasari, pencegahan yang terbaik adalah dengan mengobati penyebabnya.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini