Kisah Penyintas Covid-19: Bernyanyi Membuat Saya Lebih Lega saat Bernapas

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 19 Juli 2021 10:11 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 19 481 2442721 kisah-penyintas-covid-19-bernyanyi-membuat-saya-lebih-lega-saat-bernapas-x39WycllmJ.jpg Pandemi Covid-19 (Foto: Chilliwack)

SEJATINYA setiap pasien Covid-19 punya ceritanya sendiri dalam proses penyembuhan penyakitnya. Ada yang mengatakan cukup istirahat, ada yang bilang perbanyak konsumsi 'imun positif' dengan nonton video yang lucu-lucu, bahkan belum lama ini ada yang mengaku lebih baik kondisinya dengan bernyanyi.

Lydia Zuraw mengaku lebih mudah bernapas dengan bernyanyi saat terkena Covid-19. Namun apa yang dialami Lydia tak bisa menjadi kebenaran secara medis, karena kembali, ini pengakuan secara subjektif pasien Covid-19.

 Lydia

"Oktober lalu, sesak napas saya memburuk setelah berminggu-minggu jalani pengobatan. Sesak itu muncul saat saya berjalan atau beristirahat, berbaring atau duduk, bekerja atau nonton film, berbicara atau bahkan saat bermeditasi dalam diam," ceritanya yang dikutip dari South China Morning Post, Senin (19/7/2021). "Tapi, saat bernyanyi sesak napas itu tidak ada," lanjutnya.

Juni adalah masa di mana Lydia merasa amat tersiksa dengan infeksi Covid-19 dalam tubuhnya. Rasa tidak nyaman termasuk frustasi hinggap di dirinya berlarut-larut hingga tak terasa tubuhnya kekurangan oksigen dan itu yang membuat sesaknya memburuk.

Dia pun menjelaskan gejala Covid-19 yang dialami, yaitu sakit tenggorokan, sakit kepala, kelelahan, dan sesak napas. "Bahkan, gejala tersebut bertahan setahun kemudian," tambahnya.

Dan, Lydia menjelaskan bahwa musik benar-benar membantunya pulih dari kondisi tak nyaman tersebut. Sudah dekat dengan musik sejak usia 5 tahun membuatnya benar-benar merasa dekat dengan musik dan ternyata lewat musik jugalah dia merasa membaik dari infeksi Covid-19 tersebut.

"Saya mulai les biola itu saat usia 5 tahun, lalu beralih ke musik folk di usia 6 tahun. Saya juga aktif sebagai penyanyi paduan suara di usia 12 tahun. Saat pandemi, saya pun bergabung dengan paduan suara virtual lintas negara," ceritanya.

Salah satu kegiatan yang dilakukan paduan suara virtual itu adalah mempelajari lagu drama Yoruba dari Nigeria, lagu tradisional dari Sevdalinka di Bosnia dan Herzegovina, Appalachian standard, lagu rakyat dari Gilan, Iran, dan banyak lagi.

Nah, terkait lagu yang bisa membuat Lydia lebih lega saat bernapas adalah 'French Canadian drinking song'. "Saat saya menguasai lagu tersebut, saya merasa lega secara fisik maupun emosional. Saya selalu nyanyikan lagu itu saat saya sesak napas,' terangnya.

Diterangkan dalam laporan SCMP tersebut, jauh sebelum Covid-19 datang, terapi musik untuk penyembuhan penyakit pernapasan sudah cukup populer, khususnya untuk pasien penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dan asma.

"Napas yang lebih panjang dapat membantu meningkatkan relaksasi dan mengurangi respons stres tubuh," kata Seneca Block, seorang pengawas terapi musik dan seni di sistem kesehatan Universitas Hospitals di negara bagian Ohio, Amerika Serikat.

"Inilah sebabnya latihan seperti yoga dan meditasi sangat fokus pada latihan pernapasan. Pernapasan yang terkontrol diperlukan juga saat bernyanyi atau memainkan harmonika dan ini terbukti memperbaiki pernapasan seseorang, artinya napasnya bisa lebih panjang," sambungnya.

Terapi harmonika sendiri digunakan oleh Block untuk pasien PPOK. "Alat musik itu mengajarkan mereka bahwa di level mana napas mereka ada dan dengan begitu dapat lebih baik penanganannya," ujar dia.

Pasien dengan gangguan pernapasan biasanya diberikan 'spirometer insentif' semacam perangkat alat medis untuk membantu mereka melatih paru-paru. Block menilai, terapi menyanyi bekerja dengan cara serupa dengan alat medis tersebut secara teknis.

"Spirometer insentif maupun bernyanyi atau memainkan alat musik tiup telah dikaitkan dengan tidur yang lebih baik, sesak napas yang terkendali, dan suasana hati yang lebih baik," kata Joanne Loewy, direktur Pusat Musik dan Kedokteran Louis Armstrong di Sistem Kesehatan Mount Sinai di New York.

Loewy sendiri adalah pemimpin dari paduan suara pasien pulih dari stroke. "Kami terus mencari cara untuk membantu orang tetap baik dengan musik," ujarnya.

Dan kini para peneliti tengah mempelajari apakah terapi musik atau bermain alat musik dapat diterapkan juga untuk pasien Covid-19. Studi yang tengah dijalankan terkait ini dilakukan di Inggris dengan nama ENO Breathe.

Di penelitian itu, 12 peserta dilibatkan untuk belajar latihan pernapasan dan nyanyian berdasarkan teknik penyanyi profesional. Pada akhir uji coba, peserta melaporkan peningkatan sistem pernapasan dan penurunan kecemasan.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini