Orang Obesitas Berisiko Tinggi Terinfeksi Covid-19, Kenapa?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 19 Juli 2021 11:35 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 19 481 2442772 orang-obesitas-berisiko-tinggi-terinfeksi-covid-19-kenapa-siP5zjyj8h.jpg Obesitas (Foto: The indian express)

SEJAK awal pandemi Covid-19, pakar kesehatan mengelompokkan lansia dan orang obesitas sebagai orang dengan risiko tinggi Covid-19. Dua kelompok itu diketahui memiliki kondisi tubuh yang lemah dalam melawan serangan virus.

Pada kelompok lansia misalnya, seiring bertambahnya usia, sistem kekebalan tubuh melemah dan ini membuat para lansia rentan terhadap berbagai penyakit, tak hanya Covid-19.

 obesitas

Sedangkan orang obesitas pun memiliki karakteristik tubuh yang dapat memperburuk perubahan imunologi serupa, termasuk mereka yang berusia muda namun obesitas.

"Obesitas mempercepat proses rusaknya kekebalan tubuh karena peradangan," kata Kenneth Walsh, seorang profesor biokimia dan genetika molekuler di Fakultas Kedokteran Universitas Virginia, dikutip dari Scientific American, Senin (19/7/2021).

Dalam tubuh yang sehat, jaringan adiposa berperan positif dan berfungsi sebagai penyimpan energi pada saat terjadi kelangkaan pangan. Jaringan lemak juga penuh dengan sel-sel sistem kekebalan tubuh. Pada orang yang sehat, mereka mengeluarkan faktor anti-inflamasi dan protektif, tetapi mereka yang obesitas kebalikannya.

"Jika jaringan lemak menjadi tidak sehat seperti yang dialami orang obesitas, itu menjadi disfungsional atau tidak berfungsi dan malah mengeluarkan hormon atau sinyal kimia lain yang memicu peradangan kronis tingkat rendah," terang Walsh.

Peradangan kronis yang terjadi pada orang obesitas meningkatkan risiko sejumlah masalah termasuk penyakit autoimun, kanker tertentu, penyakit jantung, pankreas, masalah paru-paru, dan sistem reproduksi.

"Ini mungkin juga alasan mengapa indeks massa tubuh (BMI) yang tinggi dikaitkan dengan hasil yang lebih buruk dari penyakit menular termasuk Covid-19," tambah Walsh.

Diterangkan di sana, para peneliti sampai saat ini masih mencari tahu mekanisme terjadinya peradangan pada orang obesitas. Satu hipotesis yang banyak dipakai adalah bahwa ketika sel-sel lemak menjadi kelebihan nutrisi, stres antarsel yang dihasilkan dapat memicu 'kaskade inflamasi'.

"Jadi, orang obesitas menyimpan banyak zat dalam sel lemak, tetapi mereka juga mulai melepaskan lebih banyak dari biasanya saat mereka tumbuh," kata Andrew Greenberg, direktur laboratorium obesitas di Jean Mayer, Pusat Penelitian Nutrisi Manusia USDA di Universitas Tufts.

"Zat buruk yang dilepas orang obesitas beredar ke dalam darah dan mengikat sel-sel kekebalan di hati dan otot. Dan ini mengarah pada pelepasan faktor inflamasi," sambungnya.

Namun, ada kemungkinan lain yang dipakai peneliti dalam menyikapi masalah ini, yaitu ketika jaringan lemak menumpuk, itu menjadi hipoksia atau kekurangan oksigen. Ini pun menjadi faktor yang dapat mengaktifkan jalur inflamasi dalam tubuh.

Walsh pun berpendapat bahwa ketika sel-sel lemak yang membesar mulai mati, tubuh mengalami kesulitan membersihkan diri dari jaringan ini. Kondisi tersebut berkontribusi pada banyak toksisitas dan memicu kaskade di mana segala macam hal buruk dapat terjadi.

Lebih lanjut, pola makan yang buruk juga dikatakan dapat meningkatkan peradangan. Menurut makalah yang diterbitkan pada 2019 di jurnal Nutrients, diet Barat yang tinggi gula dan lemak jahat dan rendah karbohidrat kompleks, serat, dan mikronutrien sehat, dengan sendirinya merupakan faktor risiko 'metaflammation' atau peradangan metabolik kronis, terutama mereka yang obesitas.

"Pola makan yang buruk mengubah komposisi mikrobioma usus, mendorong produksi racun mikroba termasuk lipopolisakarida (LPS). Obesitas dapat meningkatkan permeabilitas usus terhadap racun tersebut yang juga dikenal sebagai kebocoran usus dan ini memungkinkan pelepasan ke dalam darah," terang laporan tersebut.

"Ketika tubuh merasakan LPS ekstra, itu menginduksi respons inflamasi dari sel-sel kekebalan," tambah laporannya.

Di sisi lain, jika diet Barat bisa berbahaya dan memicu peradangan, konsumsi nutrisi baik dapat membantu mengurangi beberapa kerusakan yang disebabkan oleh masalah terkait obesitas. Beberapa nutrisi termasuk asam lemak omega-3 dapat bekerja untuk mengurangi peradangan.

Salah satu menu makan yang dianggap dapat memerangi penyakit adalah diet Mediterania yang kaya akan buah-buahan dan sayuran, kacang-kacangan, ikan, dan lemak sehat. Diet tipe ini dianggap memberi orang sejumlah senyawa pelindung, termasuk omega-3 dan polifenol atau senyawa nabati dengan sifat antioksidan.

Greenberg sendiri menjelaskan bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah suplemen termasuk minyak ikan, serat, prebiotik, dan probiotik dapat bekerja untuk mengurangi peradangan, meningkatkan kekebalan, dan memulihkan kondisi kronis yang terkait dengan obesitas, seperti diabetes.

Pendekatan yang paling teruji, meskipun tidak mudah, adalah penurunan berat badan. "Tapi, mereka yang obesitas tidak harus sampai pada berat badan ideal, cukup kehilangan 5 hingga 10 persen dari berat badan sekarang benar-benar dapat membantu orang obesitas mendapatkan profil metabolisme yang baik,' kata Greenberg.

Lalu, soal olahraga, menurutnya, orang obesitas tak harus melakukan olahraga ekstrem, tapi cukup olahraga dengan level sedang dan ini sudah memberi mereka penurunan risiko peradangan. "Menurut studi 2017 yang diterbitkan di Brain, Behavior, and Immunity, sesi berjalan di atas treadmill selama 20 menit sudah dapat merangsang respons antiinflamasi," sambungnya.

"Dari semua ini, gangguan fungsi kekebalan hanyalah satu dari banyak faktor risiko infeksi Covid-19. Diabetes tipe 2 yang sering menyerang obesitas juga mempersulit penyembuhan Covid-19. Diet sehat, manajemen berat badan, dan olahraga terbukti membantu memperkuat tubuh dan itu bahkah penting selama pandemi," tutup laporan ini.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini